“ Munajat “ Dalam Buku Tambaga, Bukan “ Negeri Wuna/Muna “


Oleh : Muhammad Alimuddin

  1. Pendahuluan

Kitab “ Assajaru Huliqa Darul Bhanty Wal Darul Munajat “ atau dikalangan masyarakat Muna dan Buton dikenal dengan nama Buku Tambaga ( buku Tembaga ) adalah kitab yang begitu populer bahkan cenderung disakralkan. Kendati demikian, hampir semua masyarakat Muna dan Buton tidak pernah melihat wujud kitab tersebut apalagi membaca isinya. Hal ini bisa dipahami karena kitab tersebut sangat dirahasiakan oleh penyalin awalanya La Ode Muhammad   Ahmadi.

 

Menurut La Ode Muhammad Tanzilu Faisal Amir, orang yang membukukan kitab tersebut dalam bentuk stensilan pada tahun 1995 yang juga merupakan cucu dari La Ode Muhammad Ahmadi, sejak disalin oleh kakek nya pada tahun 1863 dari seorang ulama  di Gresik yang bernama Maulana Uztaz Akbar Sayid Abdul Rahman Hadad  yang juga pembimbingnya, kitab tersebut tidak pernah diedarkan atau diperlihatkan pada orang lain kecuali dilingkungan keluarga sendiri. Setelah La Ode Muhammad Ahmadi  meninggal, kitab tersebut diwariskan pada anaknya La Ode Muhammad Amir yang juga merupakan ayah dari La Ode Muhammad Tanzilu Faisal Amir. Ditangan La Ode Muhammad Amir sebagaimana diwasiatkan oleh ayahandanya, kitab tersebut tetap dirahasiakan dan tidak pernah diperlihatkan pada orang diluar lingkungan keluarga inti sampai beliau meninggal tahun 1954. ( Baca: LM. Tanzilu, Riwayat Singkat Kisah Terjadinya Negeri Buton dan Muna, 1995 : iv-viii ) .

 

Seperti yang diwasiatkan oleh kakek dan ayahnya, La Ode Muhammad Tanzilu Faisal Amir juga merahasiakan buku tersebut. Namuna karena ada desakan dari keluarga, pada tahun 1984, salinan ulang  buku  tersebut sedidikit demi sedikit  mulai dikumpulkan dan dialih aksarakan kedalam aksara latin ( sebelumnya, salinan kitab tersebut beraksara arab ).  Tahun 1995, salinan kitab tersebut baru dibukukan dalam bentuk stensilan oleh La Ode Muhammad Tanzilu Faisal Amir ahli waris ke – 2 dan hanya beredar dalam lingkungan sendiri. Itupun ketika dibukukukan, kitab aslinya telah tenggelam bersama Kapal Motor Harapan  Bone pada tahun 1970-an.

 

Tenggelamnya Buku Tambaga yang asli tersebut karena dibawah oleh Andi Patiroi  yang dipinjamnya dari La Ode Muhammad Tanzilu Faisal Amir dan akan di bawah ke  kampung asalnya dan ketika itu Andi Patiroi menumpang kapal naas tersebut sehingga Buku tabaga yang asli tidak terselamatkan dan tidak pernah dilihat oleh masyarakat Buton dan Muna keculai keluarga La Ode Tanzilu Faisal Amir serta Andi Patiroi sendiri. Ketika salinan asli Assajaru Huliqa Darul Bathniy dipinjam oleh Andi Patiroi,  baru sebagian kecil isi nya disalin oleh La Ode Muhammad Tanzilu Faisal Amir . Sedangkan isi lainnya di tulis hanya mengandalkan kemampuan ingatannya  atas apa yang telah dibaca dari isi salinan asli buku tersebut, sebagai mana kitipan beriku “ Tapi atas desakan keluarga agar salinan kitab/ buku tersebut di edarkan, maka pada tahun 1984 kitab atau buku salinan kitab atau buku sejarah itu mulai dikumpulkan dan yang belum sempat disalin kembali telah di hafalkan “ ( Riwayat Singkat salinan Kitab Sejarah Terjadinya Negeri Buton Dan Negeri Muna, 1995 : iv ) .

 

Anehnya, kendati Buku Tambaga tersebut tidak pernah dilihat apalagi dibaca oleh masyarakat Buton dan Muna, namun Buku Tambaga itu telah melegenda dan bahkan cenderung disakralkan.  Masyarakat Buton dan Muna percaya bahwa buku tambaga tersebut merupakan buku sejarah yang mengisahkan terjadinya Negeri Buton dan Negeri Muna dan selalu diceritakan secara turun temurun pada anak cucunya.

 

Tidak jelas, sejak kapan Buku Tambaga mulai dikenal oleh  masyarakat Buton dan Muna, apakah setelah tiba salinannya di Negeri Buton ketika dibawahn oleh  La Ode Muhamad Ahmadi setelah selesai disalin pada tahun 1863 atau kapan?. Tidak jelas juga apakah  Buku tambaga yang dimaksud oleh masyarakat Muna sama dengan buku tambaga yang dimaksud oleh masyarakat Buton seperti yang dibukukan La Ode Muhammad Tanzilu Faisal Amir. Hal ini penulis pertanyakan karena dalam kisah terjadinya Negeri Buton dan Negeri Muna terjadi berbedaan yang sangat jauh antara cerita yang beredar dikalangan masyarakat Muna dengan cerita yang berkembang dikalangan masyaraklat Buton seperti yang dikatakan dalam salinan buku Kisah terjadinya Negeri Buton Dan Negeri Muna yang di bukukukan oleh La Ode Muhammad Tanzilu Faisal Amir tersebut.

 

Dalam cerita sejarah yang berkembang dikalangan Muna seperti yang diungkap oleh J. Covreur dalam memorie Van Overgave ( Memori Serah Terima ) yang dibuat pada tahun 1935 dan diberi judul “ Etnografisch Overzicht Van Moena ( Ikhtisar Enografis Mengenai Muna )  serta dibukukan pada tahun 1995 oleh Rene Van Deberg dan diberi judul Sejarah Dan Kebudayaan Kerajaan Muna,  dikatakan bahwa yang menemukan Pulau Muna dan Pulau Buton adalah Nabi Muhammad. Kedua Pulau tersebut baru saja muncul dari permukaan laut serta masih merupakan rawa-rawa berlumpur yang belum ditumbuhi apapun. Setelah menemukan Pulau tersebut, Nabi Muhammad kembali kepada Allah dan memberitahukan apa yang dilihatnya dan menambahkan apabila Allah menghendaki tanah-tanah itu dikeringkan kira-kira akan terdapat daratan yang menyerupai Tanah Rum ( Turki ). Ketika ditanya oleh Allah dimana tempat dimaksud Nabi Muhammad menjawab di bawah daratan Turki atau dalam bahasa Munanya “ We Ghowano Witeno Ruumu “ serta diberi nama Butu’uni ( Rene Van Deberg, 1995:1).

 

Sedangkan cerita yang berkembang dikalangan Masyarakat Buton sebagaimana yang dikatakan dalam Buku “ Kisah terjadinya Negeri buton Dan Negeri Muna “ yang di tulis oleh La Ode Muhammad Tanzilu Faisal Amir  sebagai salinan dari Kitab Assajaru Huliqa Darul Bhatny Wal Darul Munajat dikatakan bahwa Negeri Buton dan Muna pertama kali memperkenalkan dirinya pada Nabi Muhammad dan para sahabat sekitar tahun III Hijriah atau tahun 624 Masehi. Ketika itu seperti biasanya, seusai shalat fardhu subuh, Nabi Muhammad dan para sahabat yang terdiri dari kaum Ansar dan kaum Muhajirin tidak langsung pulang ke rumah masing-masing tetapi tetap berada di masjid Nabawi untuk mendengarkan petuah dan nasehat dari Rasullullah saw.

 

Ketika sedang memberikan petuah  itulah terdengar suara ledakan yang maha dahsyat sebanyak Tiga kali sehingga salah seorang sahabat bertanya pada beliau sebagaimana kutipan berikut :  “ Ya Rasulullah, bunyi apakah gerangan tadi? “ kemudian Rasulullah Saw menjawab “ Sesungguhnya bunyi dentuman yang baru kita dengar bersama-sama tadi adalah menurut firman Allah SWT yang telah di wahyukan kepada Ku melalui hadist qudsi “ bahwa jauh dari sebelah Timur Arabia ini ada Dua gugusan tanah yang telah memperkenalkan dirinya kepada dunia, sedang menurut ramalanku “ Sabda Rasulullah Saw “ Bahwa manusia yang menjadi penghuni Kedua negeri itu sebagian besar akan mengikuti seruanku yaitu beriman dan ber taqwa kepada Allah SWT “ ( LM. Tanzilu Faisal Amir, 1995:1) .

 

Kemudian pada tahun VII H,dalam sebuah rapat yang dihadiri Ali Bin Abu Thalib bersama istrinya Fatimah Az-Zahrah dan beberapa kerabat tertentu, Rasulullah SAW mengutus dua orang saudara beliau dari bany hasyim yang bernama Abdul Gafur dan Abdul Malik masing-masing sebagai ahli biologi dan antropologi untuk mencari dua negeri yang pernah memperkenalkan diri dengan letusan tersebut dengan berpesan agar semua yang hadir dalam rapat tersebut merahasiakan hasil keputusan dalam rapat tersebut ( LM. Tanzilu Faisal Amir, 1995 :2).  Pada Malam nifis Sya’ban, lima belas bulan dilangit  bertepatan dengan  60 tahun wafatnya Rasulullah SAW atau Abad VII M., kedua utusan Rasulullah SAW tersebut menemukan sebuah negeri yang belum berpenghuni yang kemudian mereka beri nama Butuni sesua dengan pesan Rasulullah. ( LM. Tanzilu Faisal Amir, 1995: 11 ).

 

Pada kesempatan ini, penulis tidak bermaksud mempolemikan kedua perbedaan persepsi masyarakat ( Buton dan Muna ) mengenai kandungan isi Buku Tambaga tersebut, khususnya perihal asal mula terjadi Negeri Buton dan Negeri Muna sebagaimana yang sedikit diungkap diatas, tetapi penulis hanya menggaris bawahi  kata “ Munajat “ yang selama ini telah diyakini oleh masyarakat Buton dan Juga Masyarakat Muna sebagai Negeri Muna. Menurut penulis, persepsi masyarakat ke dua negeri tersebut  adalah persepsi yang keliru dan perlu diperbaharui lagi melalui  penelaah lebih mendalam lagi isi kandungan Buku dimaksud. Karena salinan aslinya yang disalin ileh La Ode Muhammad Ahmadi telah tenggelam sejak tahun 1970-an,  maka untuk mengungkap fakta bahwa Munajat Bukanlah Negeri Muna/ Wuna bahan utama untuk melakukan penelaan adalah   melalui saduran salinan  buku Assajaru Huliqa Darul Bhatny  yang ditulis oleh La Ode Muhammad Tanzili Faisal Amir yang diberi judul “ Sejarah Terjadinya Negeri Buton Dan Negeri Muna.

 

Ada Dua  alasan mengapa hanya saduran yang ditulis oleh La Ode Muhammad Tanzilu Faisal Amir yang di analaisis oleh penulis untuk mengungkap kandungan isi Buku Assajaru Huliqa Darul Bhatny Wal Darul Munajat,  khususnya mengungkap fakta bahwa “ Munajat “ yang dimaksud dalam buku tersebut,  bukanlah “ Negeri Muna/ Wuna “ sebagaimana yang diyakini oleh masyarakat Buton dan Muna serta para sejarawan selama ini,  yaitu : 1). Sebagaimana yang dikatakan oleh La Ode Muhammad Tanzilu Faisal Amir dalam sadurannya tersebut bahwa salinan asli Kitab Assajaru Huliqa Darul Bhtany Wal Darul Munajat atau “ Buku Tambaga ” tidak pernah diperlihatkan atau disiarkan pada orang lain selain keluarga inti. Sehingga kalau ada orang lain selaian keluarga inti La Ode Muhammad Tanzilu Faisal Amir yang bicara mengenai kandungan isi “ Buku Tambaga “ maka   dapat dipastikan itu bohong. 2). La Ode Muhammad Tanzilu Faisal Amir  mengaku bahwa walau belum semua salinan asli “ Buku Tambaga “ disalin ulang, namun Dia mengaku bahwa sebagaian besar isi salinan buku tersebut telah dihafal. Jadi walaupun penulis tidak tahu apa yang telah disalin tersebut termasuk kisah yang menceritakan tentang terjadinya Negeri Butuuni ( kemudian diterjemahkan sebagai Buton ) dan negeri Munajat ( kemudian diterjemahkan sebagai Muna ) atau tidak. Tapi setidaknya dalam saduran yang telah dibukukan tersebut juga diceritakan mengenai hal itu. Jadi dengan demikian, karena tidak ada yang pernah melihat salinan asli “ Buku Tambaga “ maka apa yang di sadur tersebut dianggap sudah sesuai dengan salinan aslinya.

 

 

  1. Selayang Pandang “ Buku Sejarah Terjadinya Negeri Buton Dan Negeri Muna

 

Buku Sejarah Terjadinya Negeri Buton dan Negeri Muna ditulis oleh La Ode Muhammad Tanzilu Faisal Amir dalam bentuk stensilan pada tahun 1995. Seperti pengakuan penulisnya dalam kata pengantar, buku ini adalah saduran dari salinan asli Buku Assajaru Huliqa Darul Bhatniy Wal Darul Munajat, sedangkan Buku Assajarun Huliqa Darul Bhatniy Wal Darul Munajat sendiri disalin oleh kakek  beliau yang bernama La Ode Muhammad Ahmadi pada tahun 1863 dari seorang sayid di Gresik yang bernama Uztadz Akbar Maulama Sayid Abdul Rahman Hadad. Karena salinan asli buku tersebut diberi sampul depan dengan tembaga tipis, maka masyarakat Buton dan Muna lebih mengenal dengan nama “ Buku Tambaga “.

 

Salinan asli Buku Assajaru Huliqa Darul Bhatniy Wal Darul Munajat telah tenggelam bersama Kapal Motor Harapan Bone pada tahun 1970-an.  Ketika itu buku yang sangat dirahasiakan dan tidak pernah diperlihatkan serta diedarkan tersebut, dipinjam oleh Andi Patiroi dari ahli warisnya La Ode Muhammad Tanzilu Faisal Amir dan hendak dibawah ke kampung halamannya. Namun naas, ketika itulah Kapal Motor Harapan Bone yang ditumpanginya tenggelan dan ikut pula menenggelamkan buku yang sangat melegenda,  bahkan disakralkan oleh masyarakat Buton Dan Muna tersebut.

 

Buku Sejarah Terjadinya Negeri Buton Dan Negeri Muna terdiri dari 143 halaman  serta terbagi dalam beberapa bagian pokok diantaranya :  1). Kisah Pemenuan Negeri Butuni dan Rijalani ( Munajat ),  2). Asal Mula Manusia Penghuni Negeri Buton dan kisah kedatangan Mia Patamiana serta Rombongan Wakaka, 3). Kisah terdamparnya Wa Tandibe di Loghia dan Pelantikan Raja Muna I Ndokeu atau Banca Patola. Serta Sawerigading, Raja Luwu I tiba di Negeri Muna dan lain-lain.

 

Buku ini sangat menarik untuk dibaca karena memuat sejarah dua negeri bersaudara yakni Buton dan Muna. Walau sejarah Negeri Muna yang dibahas dalam buku ini hanya sebatas pada terdamparnya Wa Tandiabe di Loghia serta pelantikan raja Muna I namun setidaknya buku ini telah mencomform bahwa Negeri Buton dan Negeri Muna adalah dua Negeri yang merdeka dan berdaulat serta memiliki sejarah sendiri dalam perjalanan politiknya sebagai sebuah Kerajaan. Buku ini juga menconform bawa Munajat yang selama ini dikatakan sebagai Negeri Muna adalah sebuah persepsi yang salah dan tidak berdasar.

 

  1. Fakta-Fakta “ Munajat “ Bukan Negeri Wuna/ Muna

 

Dalam banyak pemahaman masyarakat Buton dan Muna terutama mengenai sejarah kedua negeri tersebut, dipercaya bahwa “ Munajat “  adalah nama lain untuk “ Negeri Muna “.  Bahkan banyak juga penulis sejarah Negeri Muna berasumsi kalau  nama “ Muna “  untuk penyebutan Kerajaan Muna menggantikan Wuna berasal dari kata “ Munajat “.

 

Namun setelah penulis membaca dokumen- dokumen kuno termasuk saduran buku Assajaru Huliqa Darul Bhatniy Wal Darul Munajat yang diberi judul Sejarah Terjadinya Negeri Buton Dan Negeri Muna, penulis berpendapat yang sebaliknya yakni “ Munajat “  bukanlah Negeri Muna. Untuk memperkuat pendapat itu, penulis akan menguraikan beberapa fakta yaitu :

 

!). Dokumen- Dokumen Kuno

Banyak dokumen kuno, terutama yang ditulis sebelum tahun 1800-an yang tersimpan di museum KILTV Den Hag Belanda,  nama Muna untuk penyebutan sebuah kerajaan tidak pernah ada,  yang ada adalah Wuna seperti kutipan berikut “ Adapun tatkala Murhum menjadi raja di Negeri Buton ini, tatkala dikaruniai Murhum, maka menjadilah sekalian negeri, karena ia Raja La Kilaponto membawahi negeri yang besar yaitu Buton dan Wuna. Jadi ikut sekalian negeri seperti  Kaledupa dialihkan, Mekongga dialihkan, dan Kabaena dialihkan. Maka sekalian negeri dialihkan oleh Murhum “ ( Koleksi Belanda, hal 1 ).  Demikian juga dengan penyebutannya secara lisan, baik orang muna sendiri atau masyarakat lain di sulawesi tenggara bila berbicara dalam bahasa daerah sampai saat ini,  yang dipakai adalah kata Wuna bukan Muna.

 

Nama Muna untuk penyebutan nama kerajaan  mulai muncul pertama kali  dalam dokumen yang disimpan di Museum KILTV  yang ditandatangani oleh Sultan Buton  La Ode Muhammad Qaimuddin  Gelar Kobadiana dengan  Raja Kulisusu, Raja Tiworo,  Raja Kaledupa dan Raja Muna La Ode Sumaili pada tahun 1842.

 

Dokumen itulah yang menjadi dasar bagi Kesultanan Buton untuk pembentukan Barata  atau daerah penyangga. Namun nampaknya perjanjian yang ditanda tangani oleh Raja Muna La Ode Sumaili tersebut ditentang oleh raja berikutnya yaitu La Ode Saete dan Sarano Wuna. Penentangan yang dilakukan oleh Raja La Ode Saete dikarena perjanjian itu bertanggal, dan tahun setelah empat tahun La Ode Saete di lengser dari kedudukannya sebagai  Raja oleh raja berikutnya ( La Ode Saete dan Sarano Wuna ). Itu artinya, ketika La Ode Sumaili menanda tangani perjanjian itu,  beliau tidak  lagi bertindak sebagai Raja Muna karena kedudukannya telah diganti oleh La Ode Saete.

 

Sebagai peneguhan sikap menentang perjanjian ilegal itu, Raja Muna La Ode Saete dan Sarano Wuna sepakat menjatuhkan hukuman gantung  pada La Ode Sumaili Raja yang menandatangani perjanjian itu setelah empat tahun lengser, serta menyatakan perang pada Buton dan sekutunya Kolonial Belanda. Serbagai konsekuensi  penolakan terhadap perjanjian itu, maka terjadi perang antara Buton dan Muna ( Baca : La Ode Saete, Raja Muna – www.formuna.wordpress.com ).

 

2). Buku Sejarah Terjadinya Negeri Buton Dan Negeri Muna.

 

Buku Sejarah Terjadinya Negeri Buton Dan Negeri Muna  saduran La Ode Muhammad Tanzilu Faisal Amir dari buku Assajaru Huliqa Darul Bhatniy Wal Darul Munajat  mengutip sebuah hadis  yang artinya, “ Sedang negeri terakhir yang ditemui oleh kedua saudara utusanku, kutamsil ibaratkan kedua belah kaki ku dan kunamai Munajat” ( LM. Tanzilu Faisal Amir, 7: 1995 ), namun hadist itu tidak secara eksplisit menjelaskan kalau yang dimaksud dengan Munajat adalah Negeri Muna. Olehnya itu menurut penulis, sangat naif bila secara serampangan untuk menyimpulkan kalau yang di maksud Munajat  itu sebagai Negeri Muna.

 

Hadist berikutnya yang dikutip penulisnya untuk mendukung hadis diatas, ternyata tidak diartikan dengan benar. Hal itu dapat dilihat sebagaimana kutipan berikut: “ WAL MUNAJAT RIJAALANIY KAL DAL ALAA SUURATI MUHAMMAD “ . kalimat yang dalam bahasa arab itu kemudian diartikan sebagai berikut “ Dan Munajat nama negeri Muna adalah kedua belah kakiku huruf Dal rangkaian huruf namaku Muhammad “ ( LM. Tanzilu Faisal Amir, 1995:7 ).  Transliterasi dari  bahasa arab ke bahasa Indonesia terhadap hadist itu jelas – jelas salah karena arti yang sebenarnya adalah “ Dan Munajat Kedua belah kakiku, huruf dal dari rangkaian nama Ku  Muhammad “  Atau bila mengacuh  pada hadits sebelumnya yang juga dikutip dalam buku tersebut yang artinya : “ Menurut hakekat rahasia keyakinan hatiku kedua negeri tersebut kunamai BATHNIY DAN RIJAALANI  “ ( LM. Tanzilu Faisal Amir, 1995:4), maka pengartian yang benar untuk kaliamat bahasa arab “ Wal Munajat Rijaalaniy kal Dal alaa Surati Muhammad “ tersebut kedalam bahasa indonesia  adalah “ dan Munajat Negeri Rijaalani  huruf Dal rangkaian namaku Muhammad “ Jadi menurut penulis penyebutan nama Negeri Muna dalam mengartikan  hadist itu adalah interpretasi subyektif penyadur atau penyalin awal dari buku tersebut.

 

Kisah lain dalam Buku  Sejarah Terjadinya Negeri Buton Dan Negeri Muna yang memperkuat pendapat penulis kalau Munajat yang dimaksud di Buku tersebut bukalah “ Muna “ adalah tertuang dalam kisah kedatangan Wa Kaa-Kaa dan rombongannya kenegeri Buton.  Dalam kisah itu dikatakan bahwa Wa Kaaka datang ke negeri Buton  bersama saudara misannya Muhammad Ali Idrus dan  dan dua kawan baik mereka yaitu Khun Khan Chiang dan Sang Riarana berserta 40 orang pengawalnya, namun 40 orang pengawal tersebut tidak sampai di negeri Buton. Setelah tiba di Buton mereka berpisah, Khun Khan Chiang dan Sang Riarana ke Tobe-tobe ( La Balawa ), sedangkan Wa Kaaka tinggal pada suatu tempat ( belakangan disebut Sora Wolio ) dan  Muhammad Ali Idrus pergi ke Negeri Munajat.

 

Di ceritakan dalam kisah selanjutnya, di Negeri Munajat Muhammad Ali Idrus menikah dengan Wa Bira Sangia Pure – Pure. Kemudian Muhammad Ali Idrus di Gelar Maligana. Di Negeri Munajat, Muhammad Ali Idrus mendirikan sebuah pondok yang sebagian tiangnya berada di dalam laut yang terdapat kerang raksasa atau dalam bahasa buton dinamakan ‘ Kamatuu  susu “. Akibatnya, setiap saat kerang tersebut menyemprotkan air kedalam podok Muhammad Ali Idrus sehingga dia merasa tidak nyaman.

 

Singkat cerita, akhirnya Muhammad Ali Idrus mengadakan sayembara yang isinya barang siapa  yang dapat  mencongkel  kerang laut raksasa yang mengganggu ketentraman hidupnya tersebut maka akan di nikahkan dengan putrinya. Sayembara itu didengar oleh seorang pemuda dari Bungku Sulawesi Tengah yang bernama Nggori-Nggori. Dengan kesaktiannya, akhirnya Nggori-Nggori dapat mencongkel kerang tersebut, bahkan kerang tersebut melayang dan terbelah dua, kulitnya yang satu jatuh di Ereke yang waktu itu masih bagian dari Buton, sedangkan yang satunya lagi jatuh di daerah Bungku Sulawesi Tengah.  Setelah berhasil mencongkel kerang tersebut, Nggori-Nggori dinikahkan dengan Wa Salambose, anak dari Munammad Ali Idrus dan beranak pinak di  Ereke. ( LM. Tanzilu Faisal Amir, 1995: 32,44,45).

 

Penggambaran “ Munajat “ sebagai sebuah negeri dalam kisah tersebut itu semakin memperjelas bahwa “ Munajat “ bukanlah Negeri Muna. Hal itu karena nama-nama negeri yang disebutkan tidak terdapat di daratan Pulau Muna, tetapi daratan Pulau Buton bagian Utara.  Nama-nama negeri yang dimaksud adalah Pure dan Maligana (o) serta Ereke. Itu artinya negeri Munajat yang dituju Muhammad Ali Idrus saudara misan Wa Kaa-ka bukanlah negeri Muna tetapi nama sebuah negeri di Pulau Buton Bagian Utara yang saat ini bernama Maligano, Pure dan Ereke.

 

Di antara  wilayah Pure dan Maligano ada sebuah wilayah yang bernama Batukara.  Boleh jadi nama Batukara itu berasal dari nama sebuah Kerajaan di Melayu Pariaman,  yang diceritakan sebagai negeri asal Kunaifi atau Muhammad Ali Idrus dan  Wa Kaa-kaa atau Musarafatul Izzati Al Fakriy.  Untuk itu simak kutipan berikut “ Karena rindu dengan ayahnya yang bernama Kunaifi Raja Batu Kara yang telah lama tinggal di Negeri Munajat dan adiknya Kaudoro dengan sang Riarana  yang telah berada di Negeri Buton, Banca Patola Alias Ndokeu, nekat meninggalkan istri di Istana Raja Luwu di Sulawesi Selatan, mengarungi lautan dengan hanya seruas bambu tolang sebagai tumpangan sehingga mencapai daratan “ ( LM. Tanziluy Faisal Amir, 1995: 56 ).  Fakta ini juga semakin memperkuat pendapat penulis bahwa Munajat Bukanlah Negeri Muna tetapi Negeri-negri di wilayah Pulau Buton Bagian Utara. Fakta ini juga membuktikan bahwa Banca Patola atau Ndokeu yang dalam buku Sejarah Terjadinya Negeri Buton dan Negeri Muna, Bukanlah Raja Muna I yang di Muna di kenal dengan nama La Eli atau Baidhulu Dhamani ( Ulasan mengenai fakta ini akan penulis ungkap pada artikel berikutnya ).

 

Memang dalam sejarah Kerajaan Muna dan Buton berikutnya dikisahkan bahwa  negeri – negeri tersebut masuk dalam wilayah teritorial Kerajaan Muna, namun peristiwa masuknya negeri- negri tersebut kedalam wilayah  teritorial Kerajaan Muna terjadi pada masa pemerintahan La Kilaponto sebagai Sultan Buton dan La Posasu ( Raja Muna ), pada tahun 1541 jauh setelah penemuan negeri Munajat oleh Abdul sukur dan  Abdul Gafur serta Muhammad Ali Idrus yang dikisahkan dalam buku Sejaraha Terjadinya Negeri Buton Dan Negeri Muna. Masuknya begeri-negeri itu kedalam wilayah teritorial Kerajaan Muna sebagai konpensasi atas permintaan La Kilaponto yang membawa dua wilayah Kerajaan Muna ke dalam teritorial Kesultanan Buton yakni Gu dan Mawasangka ( Baca : La Kilaponto Omputo Mepokonduaghono Ghoera- www.formuna.wordpress.com). Itu artinya, baik Abdul Sukur dan Abdul Gafur maupun Muhammad Ali Idrus tidak pernah menginjakan kakinnya di Negeri Muna. Jadi Negeri Munajat yang mereka maksud bukanlah Muna tetapi wilayah Pulau Buton bagian Utara.

 

 

Penutup

Dari fakta-fakta diatas, maka terungkap bahwa “ Munajat “  bukanlah nama lain untuk negeri/kerajaan Muna, tetapi nama wilayah di Pulau Buton bagian Utara yang saat ini menjadi kecamatan Maligano dan Wakorumba Selatan ( Kabupaten Muna ) dan Kecamatan Kulisusu ( Kabupaten Buton Utara ). Untuk itu  maka sudah saatnya untuk kita kembali meng upgrate pemahaman tentang yang telah merasuki sejarah negeri Muna terutama mengenai penyebutan Munajat Sebagai Negeri Muna.

Karena Fakta itulah juga penulis merekomendasikan pada pemerintah Kabupaten Muna dan Kabupaten Muna Barat dan seluruh stake holder terkait untuk memikirkan pengembalian nama Wuna sebagai Nama Kabupaten menggantikan Nama Kabupaten Muna saat ini. Hal ini penulis rekomendasikan karena menurut hemat penulis, penggunaan Nama Muna untuk menggantikan Wuna sangat kental nuansa politiknya ketimbang latar belakang sejarahnya.

 

Bahan bacaan :

  1. Sejarah Terjadinya Negeri Buton Dan Negri Muna, LM. Tanzilu Faisal Amir – 1995
  2. Sejarah Dan Kebudayaan Kerajaan Muna, Rene Van Den Berg – Arta Wacana Press, 1995
  3. La Kilaponto Omputo Mepokonduaghono Ghoera, Muhammad Alimuddin – formuna.wordpress.com,
  4. La Ode Saete Raja Muna – formuna.wordpress.com

 

 

MENGENAL “ WASITAO”, MERAJUT KEMBALI KEKERABATAN  ANTAR ETNIK DI SULAWESI


 

  1. Pendahuluan

Politik De Vide Et Impera yang ditanamkan   oleh Kolonial Belanda ( VOC ) sejak awal abad  XVII pada kerajaan-kerjaan yang ada di Sulawesi Tenggara, di sadari atau tidak  telah menumbuhkan benih-benih perpecahan dan rasa Hegemonisme suatu etnik terhadap etnik lainnya.  Ironi nya benih-benih perpecahan dan rasa hegemonisme tersebut  telah menjadi warisan history yang membebani jiwa sebagian generasi muda sampai saat ini.  Akibatnya hubugan kekerabatan yang telah terjalin sebelum nya menjadi tercerabut dan bahkan tidak jarang terjadi gesekan antar  etnik yang menjurus pada disintegrasi bangsa.

Prof. Dr. H. Anwar Hafid, M.Pd. mengutip Warsila, mensinyalir  pada saat ini Indonesia sedang menghadapi permasalahan disintegrasi bangsa yang diakibatkan beban history masa lalu. Menurut  Prof. Dr. H. Anwar Hafid, M.Pd,  sekurang-kurangnya ada tiga masalah yang harus segera dipecahkan, diantaranya problema historis yang berkaitan dengan konflik sosial, yakni berupa krisis ketika konflik-konflik masa lalu belum terselesaikan dan tertinggal (Warsilah, 2000 dalam H. Anwar Hafid,2013). Olehnya itu tantangan masa depan kita tehadap problema tersebut adalah bagaimana mengantisipasi gejala hegemoni kebudayaan, karena jika hal ini terjadi akan cenderung merelatifkan kebenaran (H. Anwar Hafid, 2013 ).

Berawal dari realitas tersebut dan menjawab tantangan masa depan guna melepaskan diri dari virus yang di tanamankan oleh koloniaisme di dalam jiwa sebagian masyarakat Sulawesi Tenggara, penulis mencoba menggali history keberadaan seorang tokoh perempuan yang berasal dari etnik Tolaki, salah satu etnik di Sulawesi Tenggara yang bernama Wasitao. Mungkin banyak orang yang tidak mengetahui siapa sebenarnya Wasitao, bahkan tidak jarang keberadaannya sengaja di tutupi hanya untuk menunjukan hegemoni suatu etnik terhadap etnik lainnya. Atau juga kemungkinan lain  adalah akibat adanya beban history masa lalu yang telah  ditanamkan pada sebagian masyarakat Sulawesi Tenggara oleh Kolonial Belanda sebagai perwujudan dari politik de vide et impera.

Padahal dalam beberapa literature baik berupa manuskrip dan buku sejarah secara maupun tradisi lisan masyarakat tegas dikatakan bahwa Wasitao adalah seorang perempuan yang menurunkan raja-raja besar yang pernah memerintah di Kerajaan-kerjaan  besar  di Sulawesi Tenggara,  yakni Kerrajaan Wuna ( Muna ), Konawe, Mekongga dan Buton ( Wolio ). Dokumen – dokumen tersebut adalah seperti   dokumen yang tersimpan di KITLV dalam kode SBF.308 R.410, SBF.214 R.361, SBF.291 R.3.19, SBF.19 R.1.19, SBF.151 R.2.102, SBF.20 R.120, SBF.207 R.3.54, SBF.175 R.3.22, dan SBF. 184 R.3.31  yang  menginformasikan bahwa raja-raja Tiworo memiliki Hubungan silsila dengan Raja-raja Muna, Wolio, Konawe, Melayu, Gowa dan Kulisusu ( La Niampe, 2012 ), Sejarah Kerajaan Muna ( La Ode Abdul Kudus, 1962:2), Pekukuno Konawe versi Ranomeeto (  Alm  H. Hasan Bin Langgomia yang ditulis oleh  Alm  A. Hamid Hasan Bin H.     Hasan dan disalin ulang  oleh Bapak Ambo Zaid Pamanggala ), buku sejarah Sulawesi Tenggara (  Prof Tamburaka, 2005 ) dan lain -lain . Olehnya itu, artikel ini penulis beri judul MENGENAL “ WASITAO”, MERAJUT KEMBALI KEKERABATAN ANTAR ETNIK DI SULAWESI TENGGARA.

Artikel ini adalah merupakan kelanjutan dari artikel kami terdahulu dalam bentuk tulisan reportase ilmiah dengan judul PENCARIAN JEJAK LELUHUR YANG TERLUPAKAN, – Penelusuran Ke makam Wasitao, Perempuan Yang menurunkan Raja – Raja Di Kerajaan Konawe, Mekonongga, Wuna dan Buton Di  Desa Lambo  Tua,  Kecamatan Mowewe Koltim” , yang penulis  publikasikan di blog pribadi www.mabhuty.yu.tl dan www.formuna.wordpress.com.

 

Penulis menyadari sebagian konten dari artikel ini akan menjadi polemic dan kontroversi di kalangan masyarakat dari etnik-etnik diatas. Namun bagaimana pun juga kebenaran itu harus di ungkap apalagi mengenai profil seorang tokoh yang darahnya mengalir hampir di sumua etnik di Sulawesi Tenggara. Tujuan pengungkapannya jelas yakni untuk mengikis virus politik de vide et impera yang tanamkan colonial yang mana sampai saat ini masih melekat dalam jiwa sebagian masyarakat.

Untuk meminimalkan polemik dan kontroversi tersebut, penulis sangat berhati-hati dalam melakukan penelusuran dan mengumpulkan referensi. Berbagai sumber penulis coba gali bahkan sampai  mengunjungi beberapa situs yang di duga sebagai makam Wasitao. Guna memastikan apakah referensi tersebut memiliki ke akurasian yang tinggi, penulis melakukan singkronisasi data-data yang di dapat satu dengan lainnya. Apabila data-data tersebut memiliki kemiripan barulah data itu di gunakan sebagai sumber referensi untuk menarik kesimpulan dalam pengungkapan jati diri Wasitao. Sedangkan yang tidak, penulis kesampingkan.

Selain itu penulis juga merangkum tradisi tutur yang berkembang di etnik-etnik besar tersebut yang berkaitan dengan cerita seputar Keberadaan Wasitao. Pemilihan referensi dari tradisi tutur tersebut karena menurut penulis laporan/ hasi penelitian prehistory yang menceritakan tentang jati diri Wasitao belum cukup memberikan keterangan yang memadai. Olehnya itu penulis melakukan pendekatan dengan menelusuri melalui tradisi lisan ( baca, Amir Sahaka 2010:25 ) Penulis juga melakukan tinjauan lokasi/situs untuk melengkapi informasi seputar sejarah dan jati diri Wasitao. Jadi tinjauan pustakan hanya menekankan pada kegiatan melihat, lebih  tepatnya meninjau kembali hasil-hasil penelitian/tulisan yang telah dilakukan peneliti/penulis terdahulu ( lihat Sangidu, 2005:109 dalam Amir Sahaka dkk, 2010: 83 )

 

  1. Asal Usul Masyarakat Di Sulawesi Tenggara Dan Terbentuknya Kekerabatan

`Menurut H. Anwar Hafid, nenek moyang penduduk yang berdiam di daerah Sulawesi Tenggara sekarang ini. merupakan pertemuan ras Mongoloid dari Utara, ras Austro-Melanesoid dari Timur dan Proto-Melayu  dari Barat/Utara. (Razake, 1989 dalam H. Anwar Hafid 2010). Suku Moronene, Tolaki, Wawonii, dan Kulisusu mempunyai ciri fisik dan budaya yang mirip dengan suku-suku yang ada di Sulawesi Tengah dan mungkin juga Sulawesi Utara. Jika dilihat dari cepkalik- index, mata, rambut maupun warna kulit suku-suku tersebut memiliki persamaan dengan ras Mongoloid, diduga berasal dari Asia Timur ke Jepang kemudian tersebar ke selatan melalui Kepulauan Riukyu, Taiwan, Philipina, Sangir Talaud, Pantai Timur Pulau Sulawesi kemudian sampai ke Sulawesi Tenggara. Sementara itu penduduk kepulauan (Muna dan Buton), termasuk di Kepulauan Banggai (Sulteng) dan suku-suku di NTT banyak memiliki persamaan dengan ras Austro-Melanesoid (Razake, 1989 dalam H. Anwar Hafid, 2013).

Masyarakat yang berkembang di Sulawesi Tenggara saat ini seperti yang dikatakan H. Anwar Hafid, bukanlah manusai purba pendukung situs yang ada di Gua Liangkobori di Kabupaten Muna.  Hal itu didasari pada asumsi dimana manusia purba pendukung relief di Gua Liangkobori adalah masyarakat yang masih tinggal di dalam gua dan untuk memenuhi kebutuhan makan nya masih mengandalkan berburu dan meramu. Sedangkan manusia sebagai nenek moyang masyarakat Sulawesi Tenggara saat ini, saat bermigrasi ke daerah-daerah Sulawesi telah mengenal teknologi pembuatan rumah dan telah pandai  bercocok tanam dan berternak. Menurut La Oba ( 2005:10-11 ) manusia purba pendukung situs  yang ada di Liang Kobori, sebagai manusia purba pertama yang mendiami Sulawesi Tenggara  mengalami kepunahan sebagaimana halnya manusia purba lainya yang pernah ada di Nusantara.Jadi secara umum yang menjadi nenek moyang masyarakat Sulawesi Tenggara berasal dari dua ras yang berbeda yakni ras Mongoloid   mendiami daratan Sulawesi dan dan ras Austro-Melanesoid yang mendiami dua pulau besar di jazirah tersebut ( Muna dan Buton ).

Para migran tersebut, ketika sampai di daerah ini membentuk perkampungan di wilayah-wilayah yang menawarkan kehidupan bagi mereka, seperti di lembah sungai atau di sekitar danau (ingat: Sungai Lasolo, Sungai Konaweeha, Danau Amboau) pusat konsentrasi pemukiman kuno di Sulawesi Tenggara. Dari sini mereka membentuk pemerintahan desa atau kerajaan-kerajaan kecil dan kemudian membentuk konfederasi (H. Anwar Hafid, 2010 ).

Seiring dengan semakin bertambahnya penduduk dan semakin moderennya system social maka semakin kompleks juga kebutuhan mereka. Demikian pula dalam proses interaksi,bila sebelumnya interaksi itu terjadi hanya sebatas diantara anggota komunitas ( kelompok Sosial ), maka seiring dengan semakin kompleks nya kebutuhan, kegiatan interaksi mulai berkembang diluar komunitas mereka. Konsekuensi dari interaksi antar komunitas tersebut salah satunya adalah terjadinya   proses kawin mawin diantara komunitas dan ras yang berbeda. Dari proses kawin mawin tersebut maka lahir lah generasi baru yang memiliki darah trans etnik dan ras yaitu penggabungan antara ras dan etnik sehingga terjalin hubungan kekerabatan diantara etnik dan ras yang ada di Sulawesi Tenggara . Salah seorang tokoh yang feomenal yang terlahir dari generasi trans etnik dan ras  tersebut adalah La Kilaponto alias Murhum alias Haluoleo.

Ber titik tolak dari hal itu maka  dapat dikatakan bahwa masyarakat Sulawesi Tenggara khususnya  masyarakat dari etnik Muna, Tolaki dan Buton saat ini masih memiliki hubungan kekerabatan satu dengan lainnya dan tidak ada alasan untuk menyimpan rasa hegemoni diantara etnik karena pada hakekatnya semua etnik di Sulawesi Tenggara yang ada saat ini masih memiliki hubungan darah yang diawali dari hubungan perkawinan antara    La Tiworo ( Raja Tiworo I ) dengan Wasitao ( anak Mokole Konawe ).

Jadi dengan demikin maka dapat dikatakan bahwa hubungan kekerabatan diantara etnik di Sulawesi Tenggara ( Muna, Tolaki dan Buton ) mulai terjalin sejak terjadinya perkawinan antara La Tiworo ( Raja Tiworo I ) dengan Wasitao Puteri Mbulada gelar Elu Langgai (Mokole Konawe keturunan ke – 6 Oheo dan Wekoila). Jalinan kekerabatan itu semakin kuat, setelah Sugi Manuru ( Raja Wuna VI ) menikahi Watubapala cucu dari La Tiworo dan Wasitao serta seorang perempuan lainnya dari bangsawan Konawe yang bernama Wasarone. Demikian juga dengan di Buton hubungan kekerabatan antara etnik Buton, etni Tolaki dan etnik Muna  terjalin  melalui keturunan La Kilaponto gelar Murhum/ Qaimuddin Khalifatul Khamis Sultan Buton I. La Kilaponto  adalah Raja Wuna VII anak Raja Wuna VI Sugi Manuru dari Permaisurinya Watubapala yang kemudian mendirikan Kesultanan Buton sekaligus menjadi Sultan I dengan gelar Murhum/ Qaimuddin Khalifatul Khamis. Selain memiliki darah Tolaki yang diturunkan melalui  neneknya Waradea. Dalam beberapa leteratur di katakan  bahwa La Kilaponto juga  memiliki istri dari anak Mokole Konawe yang bernama Anaway Ngguluri. Dari perkawinan La Kilaponto dengan Anaway Ngguluri tersebut kemudian memiliki tiga orang anak yang kesemuanya adalah perempuan yang diberi nama masing-masing, Wade Konawe, Wade Poasia dan Wade Lepo-lepo ( M. Alimuddin, 2008 ). Jadi pada hakekatnya kekerabatan terjadi karena hubungan darah dan proses perkawinan. Hubungan darah berada sekitar saudara sepupu sekali, sepupu dua kali, sepupu tiga kali, sepupu empat kali. Sepupu lima kali dianggap suatu keluarga yang mulai menjauh. Perkawinan di luar lingkungan sepupu tiga kali menyebabkan batas kekerabatan menjadi semakin luas, ini sering terjadi di kalangan etnis-etnis yang ada di Sultra. Meskipun umumnya orang mengakui kerabat jika dalam kelompok itu terjadi saling kenal-mengenal, oleh Koentjaraningrat (1982) disebutnya kerabat sosilogis (H. Anwar Hafid, 2013 ) .

 

Ketika La Kilaponto alias Murhum/ Qaimuddin Khalifatul Khamis alias Haluoleo Mendeklarasikan berdirinya Kesultanan Buton ( 1498) sekaligus menjadi Sultan Pertama nya, kerajaan-kerajaan besar di Sulawesi Tenggara yakni Wuna, Buton, Mekongga, Kabaena dan Kaledupa menggabungkan diri dalam sebuah Konfederasi ( sejenis Persemakmuran ) sebagaimana kutipan berikut :

 

“ Adapun tatkala Murhum menjadi raja di Negeri Buton ini, tatkala dikaruniai Murhum, maka menjadilah  sekalian Negeri,  karena ia raja La Kilaponto membawahi negeri yang besar yaitu Wuna dan Buton, jadi ikut sekalian negeri seperti kaledupa dialihkan, Mekongga dialihkan, dan kabaena di alihkan. Maka sekalian negeri pun dialihkan oleh Murhum” ( Koleksi Belanda, hal 1 dalam Hamundu, 2012 ).

 

 

Pendeklarasian konfederasi tersebut di kenal “ Aka Kapeo-peo “ ( Pakta Kapeo-peo ) dan menganut system “ Torumbalili “ ( Kekuasaan bergilir ),  dengan dua  prinsip utama Yaitu : Pertama, pinsip Soi Laompo ( Kesetaraan ) yaitu, status sosial dan wilayah yang sejajar, setara
laksana  rajukan sero, Kedua prinsip Toru Mbalili yakni ( Mahkota bergilir ),yakni  mahkota sultan dijabat secara bergiliran oleh semua anggota konfederasi. Kendatipun jabatan Sultan, namun untuk menjadi sultan seseorang harus memiliki tiga syarat untuk dapat menjadi calon sultan yaitu,
Kumbewaha (kewibaan ),  Tanailandu ( keteladan utama ) dan  Tapi-tapi (senioritas ) baik kecerdasan maupun usia.
( Baca: La Ode Sirad Imbo, 2012 ).

 

  1. Mengenal Wasitao

Dari beberapa literature  baik Manuskrip, buku-buku sejarah maupun tradisi lisan yang berkembang dikalangan masyarakat di Sulawesi Tenggara khususnya di tiga etnik besar Muna, Tolaki dan Buton dikatakan bahwa La Kilaponto alias Murhum alias Haluoleo adalah putera Raja Muna VI Sugi Manuru dari permaisurin nya yang bernama Watubapala. Watubapala sendiri merupakan Puteri dari Warandea dari perkawinannya dengan Kijula. Sedangkan Warandea merupakan anak dari Wasitao Puteri Mokole Konawe yang bernama Elu Langgai alias Mbulada  yang menikah dengan Raja Tiworo I yang bernama La Tiworo gelar Bheteno Ne Paria sebagi mana kutipan berikut,

La Tiworo (Raja Tiworo I) gelar benteno Neparia adalah bersaudara kandung dengan La Eli (Raja Muna I) gelar benteno ne Tombula. Mereka adalah anak dari hasil perkawinan Si Batara dari Majapahit dengan Wa Bokeo (dari Muna). La Tiworo mengawiniWa Sitao (Putri Raja Konawe, yaitu hasil perkawinan Elu La Nggai dan Wealanda), dikaruniai seorang anak perempuan bernama Wa Randea. Wa Randea dikawini Ki Jula dan dikaruniai sala seorang putri bernama Wa Tubapala” ( Dokumen KILTV )

Memang literatur- liteatur yang ada tersebut tidak menggambarkan secara jelas apa peran Wasitao selain sebagai isteri dari Raja Tiworo I yang bernama La Tiworo gelar Bheteno Ne Paria  sehingga keberadaannya menjadi kabur.

Ulasan berikutnya yang mengenai Wasitao di ungkap Prof. Mahmud Hamundu yang mengutip tulisan La Ode Abdul Kudus. Itu pun karena berkaitan dengan silsilah La Kilaponto  sebagai mana sebagai mana  kutipan berikut

“ Setelah beberapa lamanya maka terdengarlah chabar oleh La Kilaponto ( Murhum ) bahwa Wasitao anak Mokole Konawe telah meninggal dunia dan meninggalkan harta  yang menjadi  pusaka Warandea nenek murhum tersebut. Mendengar itu maka La Kilaponto ( Murhum ) sampailah di Konawe dan disebut namanya La Tolaki. Beberapa lamanya beliau menjadi Mokole Konawe, maka terjadilah perang antara Konawe dan Mekongga. Dalam peperangan itu dimana Konawe  mendapat kemenangan “ ( La Ode Abdul Kudus, 1962:2 dalam Mahmud Hamundu, 2005).

 

Menurut Mahmud Hamundu ( 2005 ) pemakaian nama Haluoleo sebagai nama lain La Kilaponto di kalangan etnik Tolaki baru mengemuka setelah di publikasikan hasil penelitian Tamburaka dan kawan-kawan yang bertjuk Sejarah Sulawesi Tenggara. Hamundu juga  menjelaskan selain dalam tradisi lisan, nama Haluoleo untuk penyebutan nama lain dari La Kilaponto/Murhum/La Tolaki sebelumnya tidak pernah muncul dalam kitab kuno atau arsip kerajaan. Mungkin karena itulah sehingga nama Haluoleo sebagai nama lain dari La Kilaponto/Murhum/La Tolaki tidak terlalu popular khususnya dikalangan etnik Tolaki. Namun bila mencermati  Pekukuno ( Silsilah ) Konawe versi Ranomeeto  yang dibuat oleh ( Alm ) H. Hasan Bin Langgomia yang ditulis oleh ( Alm ) A. Hamid Hasan Bin H.     Hasan dan disalin ulang  oleh Ambo Zaid Pamanggala maka dapat dikatan bahwa sungguhnya hasil penelitian Tamburaka memiliki singkronisasi dengan Pekukuno Konawe tersebut. Dalam pekukuno itu di katakana bahwa Mbulada ( Elu Langgai ) adalah keturunan ke enam dari Oheo ( Raja I Konawe ) dengan  Wekoile.  Mbulada ( Elu Langgai ) memiliki dua orang isteri yaitu  Tanggolowuta ( Arikei Lambulangi ) dan  Wealanda. Hasil perkawinan Mbulada dengan Wealanda  menurunkan Haluoleo.

Memang dalam Pekukuno Konawe tersebut tidak secara  jelas menyebutkan siapa saja anak Mbulada dengan Wealanda sampai menurunkan Haluoleo. Namun bila merujuk pada   dokumen yang tersimpan di museum KLITV tersebut maka kita  dapat berkesimpulan kalau Haluoleo adalah La Kilaponto. Hal ini berdasarkan informasi dari dokumen tersebut bahwa Wasitao adalah anak dari Elulanggai dengan Wealanda sebagaimana yang dikutip dalam pembahasan di atas. Menurut asumsi penulis tidak dicantumkannya nama Wasitao dalam Pekukuno tersebut diakibatkan karena Wasitao menikah dengan orang yang berasal dari luar garis keturunan  yag menurunkan raja- raja Konawe. Munculnya kembali nama Haluole dalam slsilh itudapat menjadi bukti bahwa benar Haluoleo atau La Kilaponto/ Murhum/ La Tolaki pernah menjadi raja di Kerajaan Konawe. Demikian juga dengan terputusnya silsilah Haluoleo dalam Pekukuno ( Silsilah ) tersebut karena pasca Haluoleo tidak ada lagi keturunan Haluoleo yang menjadi raja di Kerajan Konawe. Hal itu terjadi karena tiga orang anak Haluoleo dari isteri nya puteri Mokole Konawe yang bernama Anaway Ngguluri kesemuanya perempuan,. Sedangkan dalam pola kehidupan social masyarakat etnik Tolaki menganut prinsip paternalistic, sehingga keturunan Hluoleo tidak memiliki hak untuk menjadi raja.

Keturunan wasitao di Muna, melalui cucu nya yang bernama  Watubapala  yang menikah dengan   Raja Muna VI Sugi Manuru pada akhirnya menurunkan raja-raja di Kerajaan Muna yang dikenal dengan golongan Kaomu, sedangkan keturunan Wasarone, puteri bangsawan Konawe lainnya yang juga menikah dengan Sugi Manuru menurukan golongan walaka ( Baca : Rene Van Deberg,2005, M. Alimuddin,2008, dan La Oba, 2005 ).

Demikian juga di Buton, Wasitao melalui cicitnya La Kilaponto Sultan Buton I menurunkan raja-raja/sultan di Kesultanan tersebut. Dari beberapa catatan serjarah keturunan murni Wasitao dan Raja Muna Sugi Manuru  menjadi raja/Sultan di Kesultanan Buton hampir 200 tahun. Mereka yang pernah menjadi raja/sultan tersebut adalah La Kilaponto ( Sultan Buton I ), La Sangaji Sultan Buton II ), La Tumparasi ( Sultan Buton III ) dan La Elangi gelar Dayanu Ikhsanuddin ( Sultan Buton IV ).

Setelah Kesultanan Buton mendeklarasikan Martabat Tujuh sebagai konstitusi kesultanan maka keturunan Wasitao melalui Dinasti Kumbewaha sebagai representasi trah La Elangi gelar Dayanu Ikhsanuddin ( cucu La Kilaponto ) dan dua dinasti lainya ( Dinasti Tapi-tapi dan Tanailandu ) berbagi peran secara bergilir  di pilih menjadi Sultan Buton. Kendatipun demikian, dalam prakteknya yang paling dominan menjadi Sultan di Buton adalah keturunan Wasitao ( Dinasti Kumbewaha ).

 

Penutup

Masyarakat Sulawesi Tenggara pada dasarnya memiliki hubungan kekerabatan yang sangat erat antara satu etnik dengan etnik lainnya. Hubungan kekerabatan itu di mulai dari hubungan kawin mawin yang ditandai dengan perkawinan antara Wasitao ( etnik Tolaki ) Puteri Mbulada Raja Konawe dengan La Tiworo Raja Tiworo I anak dari Wa Bokeo ( entik muna ) sejak awal abad ke 14. Hubungan kekerabatan itu semakin meluas di hampir semua etnik setelah La Kilaponto alias Murhum alias La Tolaki alias Haluoleo putera Raja Wuna VII Sugi Manuru yang juga cicit Wasitao dengan La Tiworo menjadi Sultan Buton I dan keturunannya menurunkan sultan-sultan di Kesultanan Buton. Selain menurunkan sultan-sultan di Kesultanan Buton, La Kilaponto/Murhum/La Tolaki/ Haluoleo juga menikahi puteri Mokole Konawe yang bernama Anaway Ngguluri dan memiliki tiga orang puteri yang pada akhirnya berkembang biak di komunitas etnik Tolaki.

Olehnya itu tidak ada alasan bagi masyarakat Sulawesi Tenggara saat ini khususnya generasi muda nya  terpecah akibat perbedaan etnik karena hal itu ternyata adalah beban sejarah yang merupakan residu dari politik de vide et impera warisan  kolonialisme Belanda ( VOC ). Generasi muda harusnya menghapus sentimen stereotipe yang menyesatkan, seakan-akan “kami”  lebih baik dari “mereka”, karena sentiment stereotype tersebut dapat menimbulkan perpecahan diantara etnik. Hal itu didasari karena sejatinya masyarakat Sulawesi Tenggara adala memiliki hubungan kekerabatan yang sangat erat  atara satu etnik dengan etnik lainnya. Di dalam tubuh setiap orang dari berbagai etnik di Sulawesi Tenggara mengalir dari dari nenek moyang yang sama yakni La Tiworo dan wasitao.

Referensi :

  1. La Niampe. Prof, 2012, Informasi Mengenai Masa Lampau Tiworo
    Dalam Koleksi Koninklijk Instituut Vdr Taal,
    Land-En Volkenkunde (Kitlv) Di Leiden
    Negeri BELANDA—– Artikel
  2. Hamundu Mahmud. Prof, 2005—– Murhum Tokoh Pemersatu Kerajaan-Kerajaan Besar Di Sulawesi Tenggara. MakaLah
  3. Rabani La Ode 2012, Profil Sejarah Kerajaan Muna Dan Hubungannya Dengan Kerajaan Di Tanah Melayu Artikel
  4. Dr. H.Anwar Hafid, M.Pd. 2013 Hubungan Kekerabatan Antar Etnik Di Sulawesi Tenggara Dalam Analisis Jaringan Pelayaran Dan Perdagangan Sejak Masa Kerajaan Hingga Kini.  Artikel
  5. Amir Sahaka Dkk, 2010, Kearifan Lokal Dalam Masyarakat Mekongga (Cetakan II) Diamika Press Jakarta
  6. La Oba Drs Dkk, 2005—- Muna Dalam Lintasan Sejarah Sinyo MP Bandung
  7. Alimuddin 2006, Mengenal Sejarah Peradaban Orang Muna, Upaya Pelurusan Sejarah—– www.formuna.wordpress.com
  8. Ambo Zaid Pamanggala tanpa tahun, Pekukuno ( Silsilah ) Raja-Raja Konawe versi Ranomeeto.
  9. ——— 1987Dampak Mordenisasi Daam Hubungan Kekerabatan Di Sulawesi Tenggara. Proyek IDK Sulawesi Tenggara Kemdari

 

 

Baubau, 26 Oktober 2015

 

5Ramalan Kiamat yang Gagal Total5 Ramalan Kiamat yang Gagal Total


Ramlan kiamat suku maya pada 21 Desember 2012 ternyata tidak benar dan pada tanggal 21 Desember 2012 bumi tidak mengalami kiamat.

Sebalumnya ternyata pernag terjadi beberapa ramalan kiamat yang ternyata tidak terbukti kebenaranya ramalan kiamat ini hanyamembuat warga dunia cemas dan kahawatir.

Nah kamu mau tahu
ramalan kiamat yang terbukti salah berikut ini ada beberapa ramalan kiamat yang terbukti tidak benar mau tahu apa aja itu simak 5 Ramalan Kiamat yang Gagal Total
berikut ini.

1. 22 Oktober 1844

Seorang pengkhotbah aliran Millerite Samuel S. Snow meramalkan dunia akan berakhir 22 Oktober 1844, berdasarkan apa yang diyakini sebagai petunjuk kiamat di Kitab Daniel.

Di hari itu, ribuan orang yang percaya terlanjur menyerahkan apapun yang mereka miliki. Mereka terkejut ketika hari itu, tak ada apapun yang terjadi. Kiamat tak
datang. Hari itu terkenal dengan ‘The Great Disappointment’ atau ‘Kekecewaan Besar’ yang membuat aliran Millerite terpecah.

2. 1806

Banyak yang percaya peringatan kiamat akan disampaikan oleh seorang nabi. Di Leeds, Inggris, peran nabi itu diwakili oleh seekor ayam! ‘The Prophet Hen of Leeds’ —
demikian ayam itu dijuluki, mengeluarkan telur yang bertuliskan pesan ‘Kristus telah datang’. Kala itu, banyak orang mengunjungi lokasi ayam tersebut, melihat
langsung telur menakjubkan itu, dan lalu meyakini kiamat akan segera datang. Orang-orang yang percaya tiba-tiba menjadi sangat relijius, rajin berdoa siang dan malam, dan bertobat atas segala perilaku jahat mereka di masa lalu. Namun, isu itu berakhir saat beberapa orang yang penasaran mengawasi ayam saat bertelur.
Ternyata, telur ajaib itu adalah ulah para penipu. Belakangan diketahui, telur yang ditulisi tinta korosif dimasukkan dengan paksa ke rahim ayam betina.

Mendengar fakta itu, orang-orang yang terlanjut yakin tentu saja kaget. Tapi toh mereka tertawa keras-keras, menertawakan kebodohan sendiri. Saat itu, bagi mereka, dunia terlihat lebih indah dan menyenangkan.

3. 21 Desember 1954

Seorang ibu rumah tangga dan mahasiswa, Dorothy Martin mengaku melakukan kontak dengan mahluk Planet Clarion. Para alien mengatakan mereka akan menghancurkan Bumi dengan banjir
bah. Hanya umat beriman yang bakal selamat. Mereka akan dievakuasi piring terbang, tengah malam sebelum bencana menerjang Bumi.

Terdengar aneh? Memang. Namun, ada saja yang percaya. Para pengikutnya — sebagian terlanjur berhenti kerja dan menyerahkan semua harta miliknya — mendekam di dalam rumah masing-masing, menunggu jemputan alien. Untuk menghindari terbakar radiasi piring terbang, para pengikut menyingkirkan semua besi yang ada dari tubuhnya termasuk resleting dan pengait bra.

Tengah malam tiba, orang-orang yang percaya ini makin gelisah. Akhirnya pada pukul 04.45, Martin mengaku mendapatkan pesan lain dari mahluk Planet Clarions — bahwa Tuhan sangat terkesan dengan tindakan para pengikutnya dan berubah pikiran. Tuhan
memutuskan membatalkan kiamat.

4. Tahun 2000

Bahwa kiamat akan tiba tahun 2000 diprediksi oleh Hal Lindsey melalui dua bukunya, “The Late, Great Planet Earth,” yang terbit tahun 1970 dan “Planet Earth 2000 A.D.: Will Mankind Survive?” terbit tahun 1996 menulis, bahwa umat Kristen tak perlu membuat rencana masa depan
setelah tahun 2000.

Namun, ramalan itu meleset. Meski rekam jejaknya cacat karena kengawurannya itu, Lindsey masih aktif dalam dunia menulis, pada 2008 ia menulis sebuah kolom di
situs konservatif WorldNetDaily: menuduh Barack Obama antikristus.

5. Oktober atau November 1982

Pat Robertson dalam siaran radio tahun 1980 berjudul ‘The 700 Club’ mengatakan, “saya menjamin, akhir 1982 akan menjadi hari penghakiman.” Namun, ramalan itu hanya omong kosong. Saat terbukti salah
Robertson berkilah, Tuhan membatalkan sejumlah bencana. Seperti tsunami dahsyat di Pantai Barat pada 2006 dan serangan teroris pada 2007 — keduanya juga tak terbukti. “Aku memiliki rekam Jejak yang baik, hanya kadang- kadang aku meleset,” klaim dia.
(sumber: Christian Science Monitor)