MENGENAL “ WASITAO”, MERAJUT KEMBALI KEKERABATAN  ANTAR ETNIK DI SULAWESI


 

  1. Pendahuluan

Politik De Vide Et Impera yang ditanamkan   oleh Kolonial Belanda ( VOC ) sejak awal abad  XVII pada kerajaan-kerjaan yang ada di Sulawesi Tenggara, di sadari atau tidak  telah menumbuhkan benih-benih perpecahan dan rasa Hegemonisme suatu etnik terhadap etnik lainnya.  Ironi nya benih-benih perpecahan dan rasa hegemonisme tersebut  telah menjadi warisan history yang membebani jiwa sebagian generasi muda sampai saat ini.  Akibatnya hubugan kekerabatan yang telah terjalin sebelum nya menjadi tercerabut dan bahkan tidak jarang terjadi gesekan antar  etnik yang menjurus pada disintegrasi bangsa.

Prof. Dr. H. Anwar Hafid, M.Pd. mengutip Warsila, mensinyalir  pada saat ini Indonesia sedang menghadapi permasalahan disintegrasi bangsa yang diakibatkan beban history masa lalu. Menurut  Prof. Dr. H. Anwar Hafid, M.Pd,  sekurang-kurangnya ada tiga masalah yang harus segera dipecahkan, diantaranya problema historis yang berkaitan dengan konflik sosial, yakni berupa krisis ketika konflik-konflik masa lalu belum terselesaikan dan tertinggal (Warsilah, 2000 dalam H. Anwar Hafid,2013). Olehnya itu tantangan masa depan kita tehadap problema tersebut adalah bagaimana mengantisipasi gejala hegemoni kebudayaan, karena jika hal ini terjadi akan cenderung merelatifkan kebenaran (H. Anwar Hafid, 2013 ).

Berawal dari realitas tersebut dan menjawab tantangan masa depan guna melepaskan diri dari virus yang di tanamankan oleh koloniaisme di dalam jiwa sebagian masyarakat Sulawesi Tenggara, penulis mencoba menggali history keberadaan seorang tokoh perempuan yang berasal dari etnik Tolaki, salah satu etnik di Sulawesi Tenggara yang bernama Wasitao. Mungkin banyak orang yang tidak mengetahui siapa sebenarnya Wasitao, bahkan tidak jarang keberadaannya sengaja di tutupi hanya untuk menunjukan hegemoni suatu etnik terhadap etnik lainnya. Atau juga kemungkinan lain  adalah akibat adanya beban history masa lalu yang telah  ditanamkan pada sebagian masyarakat Sulawesi Tenggara oleh Kolonial Belanda sebagai perwujudan dari politik de vide et impera.

Padahal dalam beberapa literature baik berupa manuskrip dan buku sejarah secara maupun tradisi lisan masyarakat tegas dikatakan bahwa Wasitao adalah seorang perempuan yang menurunkan raja-raja besar yang pernah memerintah di Kerajaan-kerjaan  besar  di Sulawesi Tenggara,  yakni Kerrajaan Wuna ( Muna ), Konawe, Mekongga dan Buton ( Wolio ). Dokumen – dokumen tersebut adalah seperti   dokumen yang tersimpan di KITLV dalam kode SBF.308 R.410, SBF.214 R.361, SBF.291 R.3.19, SBF.19 R.1.19, SBF.151 R.2.102, SBF.20 R.120, SBF.207 R.3.54, SBF.175 R.3.22, dan SBF. 184 R.3.31  yang  menginformasikan bahwa raja-raja Tiworo memiliki Hubungan silsila dengan Raja-raja Muna, Wolio, Konawe, Melayu, Gowa dan Kulisusu ( La Niampe, 2012 ), Sejarah Kerajaan Muna ( La Ode Abdul Kudus, 1962:2), Pekukuno Konawe versi Ranomeeto (  Alm  H. Hasan Bin Langgomia yang ditulis oleh  Alm  A. Hamid Hasan Bin H.     Hasan dan disalin ulang  oleh Bapak Ambo Zaid Pamanggala ), buku sejarah Sulawesi Tenggara (  Prof Tamburaka, 2005 ) dan lain -lain . Olehnya itu, artikel ini penulis beri judul MENGENAL “ WASITAO”, MERAJUT KEMBALI KEKERABATAN ANTAR ETNIK DI SULAWESI TENGGARA.

Artikel ini adalah merupakan kelanjutan dari artikel kami terdahulu dalam bentuk tulisan reportase ilmiah dengan judul PENCARIAN JEJAK LELUHUR YANG TERLUPAKAN, – Penelusuran Ke makam Wasitao, Perempuan Yang menurunkan Raja – Raja Di Kerajaan Konawe, Mekonongga, Wuna dan Buton Di  Desa Lambo  Tua,  Kecamatan Mowewe Koltim” , yang penulis  publikasikan di blog pribadi www.mabhuty.yu.tl dan www.formuna.wordpress.com.

 

Penulis menyadari sebagian konten dari artikel ini akan menjadi polemic dan kontroversi di kalangan masyarakat dari etnik-etnik diatas. Namun bagaimana pun juga kebenaran itu harus di ungkap apalagi mengenai profil seorang tokoh yang darahnya mengalir hampir di sumua etnik di Sulawesi Tenggara. Tujuan pengungkapannya jelas yakni untuk mengikis virus politik de vide et impera yang tanamkan colonial yang mana sampai saat ini masih melekat dalam jiwa sebagian masyarakat.

Untuk meminimalkan polemik dan kontroversi tersebut, penulis sangat berhati-hati dalam melakukan penelusuran dan mengumpulkan referensi. Berbagai sumber penulis coba gali bahkan sampai  mengunjungi beberapa situs yang di duga sebagai makam Wasitao. Guna memastikan apakah referensi tersebut memiliki ke akurasian yang tinggi, penulis melakukan singkronisasi data-data yang di dapat satu dengan lainnya. Apabila data-data tersebut memiliki kemiripan barulah data itu di gunakan sebagai sumber referensi untuk menarik kesimpulan dalam pengungkapan jati diri Wasitao. Sedangkan yang tidak, penulis kesampingkan.

Selain itu penulis juga merangkum tradisi tutur yang berkembang di etnik-etnik besar tersebut yang berkaitan dengan cerita seputar Keberadaan Wasitao. Pemilihan referensi dari tradisi tutur tersebut karena menurut penulis laporan/ hasi penelitian prehistory yang menceritakan tentang jati diri Wasitao belum cukup memberikan keterangan yang memadai. Olehnya itu penulis melakukan pendekatan dengan menelusuri melalui tradisi lisan ( baca, Amir Sahaka 2010:25 ) Penulis juga melakukan tinjauan lokasi/situs untuk melengkapi informasi seputar sejarah dan jati diri Wasitao. Jadi tinjauan pustakan hanya menekankan pada kegiatan melihat, lebih  tepatnya meninjau kembali hasil-hasil penelitian/tulisan yang telah dilakukan peneliti/penulis terdahulu ( lihat Sangidu, 2005:109 dalam Amir Sahaka dkk, 2010: 83 )

 

  1. Asal Usul Masyarakat Di Sulawesi Tenggara Dan Terbentuknya Kekerabatan

`Menurut H. Anwar Hafid, nenek moyang penduduk yang berdiam di daerah Sulawesi Tenggara sekarang ini. merupakan pertemuan ras Mongoloid dari Utara, ras Austro-Melanesoid dari Timur dan Proto-Melayu  dari Barat/Utara. (Razake, 1989 dalam H. Anwar Hafid 2010). Suku Moronene, Tolaki, Wawonii, dan Kulisusu mempunyai ciri fisik dan budaya yang mirip dengan suku-suku yang ada di Sulawesi Tengah dan mungkin juga Sulawesi Utara. Jika dilihat dari cepkalik- index, mata, rambut maupun warna kulit suku-suku tersebut memiliki persamaan dengan ras Mongoloid, diduga berasal dari Asia Timur ke Jepang kemudian tersebar ke selatan melalui Kepulauan Riukyu, Taiwan, Philipina, Sangir Talaud, Pantai Timur Pulau Sulawesi kemudian sampai ke Sulawesi Tenggara. Sementara itu penduduk kepulauan (Muna dan Buton), termasuk di Kepulauan Banggai (Sulteng) dan suku-suku di NTT banyak memiliki persamaan dengan ras Austro-Melanesoid (Razake, 1989 dalam H. Anwar Hafid, 2013).

Masyarakat yang berkembang di Sulawesi Tenggara saat ini seperti yang dikatakan H. Anwar Hafid, bukanlah manusai purba pendukung situs yang ada di Gua Liangkobori di Kabupaten Muna.  Hal itu didasari pada asumsi dimana manusia purba pendukung relief di Gua Liangkobori adalah masyarakat yang masih tinggal di dalam gua dan untuk memenuhi kebutuhan makan nya masih mengandalkan berburu dan meramu. Sedangkan manusia sebagai nenek moyang masyarakat Sulawesi Tenggara saat ini, saat bermigrasi ke daerah-daerah Sulawesi telah mengenal teknologi pembuatan rumah dan telah pandai  bercocok tanam dan berternak. Menurut La Oba ( 2005:10-11 ) manusia purba pendukung situs  yang ada di Liang Kobori, sebagai manusia purba pertama yang mendiami Sulawesi Tenggara  mengalami kepunahan sebagaimana halnya manusia purba lainya yang pernah ada di Nusantara.Jadi secara umum yang menjadi nenek moyang masyarakat Sulawesi Tenggara berasal dari dua ras yang berbeda yakni ras Mongoloid   mendiami daratan Sulawesi dan dan ras Austro-Melanesoid yang mendiami dua pulau besar di jazirah tersebut ( Muna dan Buton ).

Para migran tersebut, ketika sampai di daerah ini membentuk perkampungan di wilayah-wilayah yang menawarkan kehidupan bagi mereka, seperti di lembah sungai atau di sekitar danau (ingat: Sungai Lasolo, Sungai Konaweeha, Danau Amboau) pusat konsentrasi pemukiman kuno di Sulawesi Tenggara. Dari sini mereka membentuk pemerintahan desa atau kerajaan-kerajaan kecil dan kemudian membentuk konfederasi (H. Anwar Hafid, 2010 ).

Seiring dengan semakin bertambahnya penduduk dan semakin moderennya system social maka semakin kompleks juga kebutuhan mereka. Demikian pula dalam proses interaksi,bila sebelumnya interaksi itu terjadi hanya sebatas diantara anggota komunitas ( kelompok Sosial ), maka seiring dengan semakin kompleks nya kebutuhan, kegiatan interaksi mulai berkembang diluar komunitas mereka. Konsekuensi dari interaksi antar komunitas tersebut salah satunya adalah terjadinya   proses kawin mawin diantara komunitas dan ras yang berbeda. Dari proses kawin mawin tersebut maka lahir lah generasi baru yang memiliki darah trans etnik dan ras yaitu penggabungan antara ras dan etnik sehingga terjalin hubungan kekerabatan diantara etnik dan ras yang ada di Sulawesi Tenggara . Salah seorang tokoh yang feomenal yang terlahir dari generasi trans etnik dan ras  tersebut adalah La Kilaponto alias Murhum alias Haluoleo.

Ber titik tolak dari hal itu maka  dapat dikatakan bahwa masyarakat Sulawesi Tenggara khususnya  masyarakat dari etnik Muna, Tolaki dan Buton saat ini masih memiliki hubungan kekerabatan satu dengan lainnya dan tidak ada alasan untuk menyimpan rasa hegemoni diantara etnik karena pada hakekatnya semua etnik di Sulawesi Tenggara yang ada saat ini masih memiliki hubungan darah yang diawali dari hubungan perkawinan antara    La Tiworo ( Raja Tiworo I ) dengan Wasitao ( anak Mokole Konawe ).

Jadi dengan demikin maka dapat dikatakan bahwa hubungan kekerabatan diantara etnik di Sulawesi Tenggara ( Muna, Tolaki dan Buton ) mulai terjalin sejak terjadinya perkawinan antara La Tiworo ( Raja Tiworo I ) dengan Wasitao Puteri Mbulada gelar Elu Langgai (Mokole Konawe keturunan ke – 6 Oheo dan Wekoila). Jalinan kekerabatan itu semakin kuat, setelah Sugi Manuru ( Raja Wuna VI ) menikahi Watubapala cucu dari La Tiworo dan Wasitao serta seorang perempuan lainnya dari bangsawan Konawe yang bernama Wasarone. Demikian juga dengan di Buton hubungan kekerabatan antara etnik Buton, etni Tolaki dan etnik Muna  terjalin  melalui keturunan La Kilaponto gelar Murhum/ Qaimuddin Khalifatul Khamis Sultan Buton I. La Kilaponto  adalah Raja Wuna VII anak Raja Wuna VI Sugi Manuru dari Permaisurinya Watubapala yang kemudian mendirikan Kesultanan Buton sekaligus menjadi Sultan I dengan gelar Murhum/ Qaimuddin Khalifatul Khamis. Selain memiliki darah Tolaki yang diturunkan melalui  neneknya Waradea. Dalam beberapa leteratur di katakan  bahwa La Kilaponto juga  memiliki istri dari anak Mokole Konawe yang bernama Anaway Ngguluri. Dari perkawinan La Kilaponto dengan Anaway Ngguluri tersebut kemudian memiliki tiga orang anak yang kesemuanya adalah perempuan yang diberi nama masing-masing, Wade Konawe, Wade Poasia dan Wade Lepo-lepo ( M. Alimuddin, 2008 ). Jadi pada hakekatnya kekerabatan terjadi karena hubungan darah dan proses perkawinan. Hubungan darah berada sekitar saudara sepupu sekali, sepupu dua kali, sepupu tiga kali, sepupu empat kali. Sepupu lima kali dianggap suatu keluarga yang mulai menjauh. Perkawinan di luar lingkungan sepupu tiga kali menyebabkan batas kekerabatan menjadi semakin luas, ini sering terjadi di kalangan etnis-etnis yang ada di Sultra. Meskipun umumnya orang mengakui kerabat jika dalam kelompok itu terjadi saling kenal-mengenal, oleh Koentjaraningrat (1982) disebutnya kerabat sosilogis (H. Anwar Hafid, 2013 ) .

 

Ketika La Kilaponto alias Murhum/ Qaimuddin Khalifatul Khamis alias Haluoleo Mendeklarasikan berdirinya Kesultanan Buton ( 1498) sekaligus menjadi Sultan Pertama nya, kerajaan-kerajaan besar di Sulawesi Tenggara yakni Wuna, Buton, Mekongga, Kabaena dan Kaledupa menggabungkan diri dalam sebuah Konfederasi ( sejenis Persemakmuran ) sebagaimana kutipan berikut :

 

“ Adapun tatkala Murhum menjadi raja di Negeri Buton ini, tatkala dikaruniai Murhum, maka menjadilah  sekalian Negeri,  karena ia raja La Kilaponto membawahi negeri yang besar yaitu Wuna dan Buton, jadi ikut sekalian negeri seperti kaledupa dialihkan, Mekongga dialihkan, dan kabaena di alihkan. Maka sekalian negeri pun dialihkan oleh Murhum” ( Koleksi Belanda, hal 1 dalam Hamundu, 2012 ).

 

 

Pendeklarasian konfederasi tersebut di kenal “ Aka Kapeo-peo “ ( Pakta Kapeo-peo ) dan menganut system “ Torumbalili “ ( Kekuasaan bergilir ),  dengan dua  prinsip utama Yaitu : Pertama, pinsip Soi Laompo ( Kesetaraan ) yaitu, status sosial dan wilayah yang sejajar, setara
laksana  rajukan sero, Kedua prinsip Toru Mbalili yakni ( Mahkota bergilir ),yakni  mahkota sultan dijabat secara bergiliran oleh semua anggota konfederasi. Kendatipun jabatan Sultan, namun untuk menjadi sultan seseorang harus memiliki tiga syarat untuk dapat menjadi calon sultan yaitu,
Kumbewaha (kewibaan ),  Tanailandu ( keteladan utama ) dan  Tapi-tapi (senioritas ) baik kecerdasan maupun usia.
( Baca: La Ode Sirad Imbo, 2012 ).

 

  1. Mengenal Wasitao

Dari beberapa literature  baik Manuskrip, buku-buku sejarah maupun tradisi lisan yang berkembang dikalangan masyarakat di Sulawesi Tenggara khususnya di tiga etnik besar Muna, Tolaki dan Buton dikatakan bahwa La Kilaponto alias Murhum alias Haluoleo adalah putera Raja Muna VI Sugi Manuru dari permaisurin nya yang bernama Watubapala. Watubapala sendiri merupakan Puteri dari Warandea dari perkawinannya dengan Kijula. Sedangkan Warandea merupakan anak dari Wasitao Puteri Mokole Konawe yang bernama Elu Langgai alias Mbulada  yang menikah dengan Raja Tiworo I yang bernama La Tiworo gelar Bheteno Ne Paria sebagi mana kutipan berikut,

La Tiworo (Raja Tiworo I) gelar benteno Neparia adalah bersaudara kandung dengan La Eli (Raja Muna I) gelar benteno ne Tombula. Mereka adalah anak dari hasil perkawinan Si Batara dari Majapahit dengan Wa Bokeo (dari Muna). La Tiworo mengawiniWa Sitao (Putri Raja Konawe, yaitu hasil perkawinan Elu La Nggai dan Wealanda), dikaruniai seorang anak perempuan bernama Wa Randea. Wa Randea dikawini Ki Jula dan dikaruniai sala seorang putri bernama Wa Tubapala” ( Dokumen KILTV )

Memang literatur- liteatur yang ada tersebut tidak menggambarkan secara jelas apa peran Wasitao selain sebagai isteri dari Raja Tiworo I yang bernama La Tiworo gelar Bheteno Ne Paria  sehingga keberadaannya menjadi kabur.

Ulasan berikutnya yang mengenai Wasitao di ungkap Prof. Mahmud Hamundu yang mengutip tulisan La Ode Abdul Kudus. Itu pun karena berkaitan dengan silsilah La Kilaponto  sebagai mana sebagai mana  kutipan berikut

“ Setelah beberapa lamanya maka terdengarlah chabar oleh La Kilaponto ( Murhum ) bahwa Wasitao anak Mokole Konawe telah meninggal dunia dan meninggalkan harta  yang menjadi  pusaka Warandea nenek murhum tersebut. Mendengar itu maka La Kilaponto ( Murhum ) sampailah di Konawe dan disebut namanya La Tolaki. Beberapa lamanya beliau menjadi Mokole Konawe, maka terjadilah perang antara Konawe dan Mekongga. Dalam peperangan itu dimana Konawe  mendapat kemenangan “ ( La Ode Abdul Kudus, 1962:2 dalam Mahmud Hamundu, 2005).

 

Menurut Mahmud Hamundu ( 2005 ) pemakaian nama Haluoleo sebagai nama lain La Kilaponto di kalangan etnik Tolaki baru mengemuka setelah di publikasikan hasil penelitian Tamburaka dan kawan-kawan yang bertjuk Sejarah Sulawesi Tenggara. Hamundu juga  menjelaskan selain dalam tradisi lisan, nama Haluoleo untuk penyebutan nama lain dari La Kilaponto/Murhum/La Tolaki sebelumnya tidak pernah muncul dalam kitab kuno atau arsip kerajaan. Mungkin karena itulah sehingga nama Haluoleo sebagai nama lain dari La Kilaponto/Murhum/La Tolaki tidak terlalu popular khususnya dikalangan etnik Tolaki. Namun bila mencermati  Pekukuno ( Silsilah ) Konawe versi Ranomeeto  yang dibuat oleh ( Alm ) H. Hasan Bin Langgomia yang ditulis oleh ( Alm ) A. Hamid Hasan Bin H.     Hasan dan disalin ulang  oleh Ambo Zaid Pamanggala maka dapat dikatan bahwa sungguhnya hasil penelitian Tamburaka memiliki singkronisasi dengan Pekukuno Konawe tersebut. Dalam pekukuno itu di katakana bahwa Mbulada ( Elu Langgai ) adalah keturunan ke enam dari Oheo ( Raja I Konawe ) dengan  Wekoile.  Mbulada ( Elu Langgai ) memiliki dua orang isteri yaitu  Tanggolowuta ( Arikei Lambulangi ) dan  Wealanda. Hasil perkawinan Mbulada dengan Wealanda  menurunkan Haluoleo.

Memang dalam Pekukuno Konawe tersebut tidak secara  jelas menyebutkan siapa saja anak Mbulada dengan Wealanda sampai menurunkan Haluoleo. Namun bila merujuk pada   dokumen yang tersimpan di museum KLITV tersebut maka kita  dapat berkesimpulan kalau Haluoleo adalah La Kilaponto. Hal ini berdasarkan informasi dari dokumen tersebut bahwa Wasitao adalah anak dari Elulanggai dengan Wealanda sebagaimana yang dikutip dalam pembahasan di atas. Menurut asumsi penulis tidak dicantumkannya nama Wasitao dalam Pekukuno tersebut diakibatkan karena Wasitao menikah dengan orang yang berasal dari luar garis keturunan  yag menurunkan raja- raja Konawe. Munculnya kembali nama Haluole dalam slsilh itudapat menjadi bukti bahwa benar Haluoleo atau La Kilaponto/ Murhum/ La Tolaki pernah menjadi raja di Kerajaan Konawe. Demikian juga dengan terputusnya silsilah Haluoleo dalam Pekukuno ( Silsilah ) tersebut karena pasca Haluoleo tidak ada lagi keturunan Haluoleo yang menjadi raja di Kerajan Konawe. Hal itu terjadi karena tiga orang anak Haluoleo dari isteri nya puteri Mokole Konawe yang bernama Anaway Ngguluri kesemuanya perempuan,. Sedangkan dalam pola kehidupan social masyarakat etnik Tolaki menganut prinsip paternalistic, sehingga keturunan Hluoleo tidak memiliki hak untuk menjadi raja.

Keturunan wasitao di Muna, melalui cucu nya yang bernama  Watubapala  yang menikah dengan   Raja Muna VI Sugi Manuru pada akhirnya menurunkan raja-raja di Kerajaan Muna yang dikenal dengan golongan Kaomu, sedangkan keturunan Wasarone, puteri bangsawan Konawe lainnya yang juga menikah dengan Sugi Manuru menurukan golongan walaka ( Baca : Rene Van Deberg,2005, M. Alimuddin,2008, dan La Oba, 2005 ).

Demikian juga di Buton, Wasitao melalui cicitnya La Kilaponto Sultan Buton I menurunkan raja-raja/sultan di Kesultanan tersebut. Dari beberapa catatan serjarah keturunan murni Wasitao dan Raja Muna Sugi Manuru  menjadi raja/Sultan di Kesultanan Buton hampir 200 tahun. Mereka yang pernah menjadi raja/sultan tersebut adalah La Kilaponto ( Sultan Buton I ), La Sangaji Sultan Buton II ), La Tumparasi ( Sultan Buton III ) dan La Elangi gelar Dayanu Ikhsanuddin ( Sultan Buton IV ).

Setelah Kesultanan Buton mendeklarasikan Martabat Tujuh sebagai konstitusi kesultanan maka keturunan Wasitao melalui Dinasti Kumbewaha sebagai representasi trah La Elangi gelar Dayanu Ikhsanuddin ( cucu La Kilaponto ) dan dua dinasti lainya ( Dinasti Tapi-tapi dan Tanailandu ) berbagi peran secara bergilir  di pilih menjadi Sultan Buton. Kendatipun demikian, dalam prakteknya yang paling dominan menjadi Sultan di Buton adalah keturunan Wasitao ( Dinasti Kumbewaha ).

 

Penutup

Masyarakat Sulawesi Tenggara pada dasarnya memiliki hubungan kekerabatan yang sangat erat antara satu etnik dengan etnik lainnya. Hubungan kekerabatan itu di mulai dari hubungan kawin mawin yang ditandai dengan perkawinan antara Wasitao ( etnik Tolaki ) Puteri Mbulada Raja Konawe dengan La Tiworo Raja Tiworo I anak dari Wa Bokeo ( entik muna ) sejak awal abad ke 14. Hubungan kekerabatan itu semakin meluas di hampir semua etnik setelah La Kilaponto alias Murhum alias La Tolaki alias Haluoleo putera Raja Wuna VII Sugi Manuru yang juga cicit Wasitao dengan La Tiworo menjadi Sultan Buton I dan keturunannya menurunkan sultan-sultan di Kesultanan Buton. Selain menurunkan sultan-sultan di Kesultanan Buton, La Kilaponto/Murhum/La Tolaki/ Haluoleo juga menikahi puteri Mokole Konawe yang bernama Anaway Ngguluri dan memiliki tiga orang puteri yang pada akhirnya berkembang biak di komunitas etnik Tolaki.

Olehnya itu tidak ada alasan bagi masyarakat Sulawesi Tenggara saat ini khususnya generasi muda nya  terpecah akibat perbedaan etnik karena hal itu ternyata adalah beban sejarah yang merupakan residu dari politik de vide et impera warisan  kolonialisme Belanda ( VOC ). Generasi muda harusnya menghapus sentimen stereotipe yang menyesatkan, seakan-akan “kami”  lebih baik dari “mereka”, karena sentiment stereotype tersebut dapat menimbulkan perpecahan diantara etnik. Hal itu didasari karena sejatinya masyarakat Sulawesi Tenggara adala memiliki hubungan kekerabatan yang sangat erat  atara satu etnik dengan etnik lainnya. Di dalam tubuh setiap orang dari berbagai etnik di Sulawesi Tenggara mengalir dari dari nenek moyang yang sama yakni La Tiworo dan wasitao.

Referensi :

  1. La Niampe. Prof, 2012, Informasi Mengenai Masa Lampau Tiworo
    Dalam Koleksi Koninklijk Instituut Vdr Taal,
    Land-En Volkenkunde (Kitlv) Di Leiden
    Negeri BELANDA—– Artikel
  2. Hamundu Mahmud. Prof, 2005—– Murhum Tokoh Pemersatu Kerajaan-Kerajaan Besar Di Sulawesi Tenggara. MakaLah
  3. Rabani La Ode 2012, Profil Sejarah Kerajaan Muna Dan Hubungannya Dengan Kerajaan Di Tanah Melayu Artikel
  4. Dr. H.Anwar Hafid, M.Pd. 2013 Hubungan Kekerabatan Antar Etnik Di Sulawesi Tenggara Dalam Analisis Jaringan Pelayaran Dan Perdagangan Sejak Masa Kerajaan Hingga Kini.  Artikel
  5. Amir Sahaka Dkk, 2010, Kearifan Lokal Dalam Masyarakat Mekongga (Cetakan II) Diamika Press Jakarta
  6. La Oba Drs Dkk, 2005—- Muna Dalam Lintasan Sejarah Sinyo MP Bandung
  7. Alimuddin 2006, Mengenal Sejarah Peradaban Orang Muna, Upaya Pelurusan Sejarah—– www.formuna.wordpress.com
  8. Ambo Zaid Pamanggala tanpa tahun, Pekukuno ( Silsilah ) Raja-Raja Konawe versi Ranomeeto.
  9. ——— 1987Dampak Mordenisasi Daam Hubungan Kekerabatan Di Sulawesi Tenggara. Proyek IDK Sulawesi Tenggara Kemdari

 

 

Baubau, 26 Oktober 2015

 

Komentar Saya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s