Makam Raja – Raja Wuna


Makam Raja Wuna Ke -12 La Ode Ngkadiri Gelar Omputo Sangia Kaindea

Makam Omputo Sangia Kaindea/ La Ode Ngkadiri- Raja Wuna Ke 13 ( 1626 – 1671 ). Makam ini terletak di sebelah Utara Masjid Kota Wuna diwilayah eks pusat Kerajaan Wuna.
Raja La Ode Ngkadiri mendapat Gelar Sangia Kaindea, karena pernah ditangkap oleh Belanda diatas sebuah kapal yang diatasnya ada tamannya (1667). Setelah di tangkap kemudian diasingkan oleh Belanda ke Ternate selama satu tahun. Pada tahun 1668, Permaisurinya Wa Ode Wakelu yang saat itu mengambil alih pemerintahan di Kerajan Wuna melakukan penjemputan terhadap La Ode Ngkadiri ( Suaminya ) ke Ternate. Dalam penjemputan itu, pasukan Kerajaan Wuna juga turut membawa Puteri Sultan Ternate sebagai sandera kemudian di bunuh dan mayatnya di buang kelaut.
Sekembalinya Dari Pengasingan, La Ode Ngkadiri kembali mengambil alih seluruh urusan pemerintahan di Kerajaan Wuna sekaligus mempersona ingrata ( mengusir ) La Ode Muhammad Idris ( 1668-1671 ), Raja yang di utus oleh Kesultanan Buton yang memanfaatkan kekosongan kekuasaan di kerajaan Wuna karena Raja Wa Ode Wakelu sedang menuju ke Ternate untuk menjemput Suaminya Raja La ODe Ngkadiri.
Raja La Ode Ngkadiri tutup usia pada tahun 1671, setelah menjadi Raja di Kerajaan Wuna Selama 45 tahun

MAKAM RAJA WUNA KE 1, LA ELI/BAIDHUL DHAMANI GELAR BHETENO NE TOMBULA

2013-12-09 17.19.45

Makam Bheteno Ne Tombula/ La Eli/Baidul Dhamani Raja Wuna ke 1 ( 1417 – 1467 ) Sebelum Bheteno Ne Tombula dinobatkan menjadi Raja, di Pula Muna telah terbentuk 8 kampung. Empat kampung dipimpin oleh Mieno dan empat lainnya di pimpin Kamokula. Kedelapan kampung tersebut mengikat diri dalam sebuah Union yang diberi nama Wamelai dengan sistem kepemimpinan berbentuk primus interprent, Koordinator pimimpinan Union bergelar Mieno Wamelai.
Pada saat Bheteno Ne Tombula dilantik menadi raja dan memproklamirkan berdirinya kerajaan Wuna, koordinator pimpinan union berada di tangan Mieno Tongkuno.
Makam Bheteno Ne Tombula terletak di sebelah barat Masjid Kota Wuna berdekatan dengan makan Kobangkuduno ( La Posasu ) Raja Wuna ke – 8 di dalam kompleks eks pusat kerjaan Wuna

MAKAM RAJA WUNA KE 8, LA POSASU GELAR KOBANGKUDUNO

2013-12-09 17.15.53

Makam Kobangkuduno/ La Posasu, Raja Wuna ke – 8 ( 1541-1551 ) Omputo Kobangkuduno menjadi Raja Wuna menggantikan kakaknya La Kilaponto Raja Wuna ke -7 sebagai konsekuensi menerima jabatan sebagai Raja di Kerajan Wolio. Selama menjadi raja selama 10 tahun, La Posasu berhasil melanjutkan pembangunan Beteng Kota Wuna yang ditinggalkan Raja pendahulunya La Kilaponto sepanjang 8900 meter dan mengelilingi seluruh Pusat Kerajaan Wuna di Kota Wuna.
Benteng yng dibangun La Posasu dan La Kilaponto ini memiliki arsitektur yang unik yakni dibangun diatas puncak bukit dan menghubungkan antara bukit-bukit sehingga benteng ini seakan diapit dua jurang yang dalam ( sisi luar dan dalamnya ). Selain itu benteng ini beberbentuk seperti labirin sebagai jebakan bagi pasukan musuh.

MAKAM RAJA WUNA KE 12, LA ODE ABD. RAHMAN GELAR SANGIA LATUGHO

2013-12-10 10.33.26

Makam Sangia La Tugho/ La Ode AAbdul Rahman, Raja Wuna ke- 15 ( 1671-1716 ). Makam ini terletak di sebelah Timur Masjid Kota Wuna tepatnya di sisi luar benteng Kota Wuna. Kendati berada di sisi luar benteng, manun makam ini berada disebuah area yang sulit di capai oleh pasukan musuh karena dikelilingi oleh jurang yang sangan dalam.

Makam Raja Wuna Ke 16, La Ode Husaini Gelar Omputo Sangia

MAKAM OMPUTO SANGIA LD SAETE DN OMPUTO NEGEG

La Ode Husaini gelar Omputo Sangia, adalah Raja Wuna ke 16 ( 1716-1767 ).

Makam Raja Wuna ke 35 La Ode Rere gelar Aro Wuna

2014-01-19 13.40.07

Iklan