Prosesi Memasuki Area Baru dalam Masyarakat Muna


Sumber : naskah.net

Masyarakat muna di Sulawesi Tenggara (Indonesia) memiliki budaya yang unik dalam memasuki area yang baru baik memasuki kebun yang baru maupun pemukiman yang baru. Ada beberapa upacara dalam memasuki area baru, yaitu sebagai berikut:

1. Runsa Kampanaha
Runsa artinya simpan atau meninggalkan. Kampanaha adalah kumpulan berbagai jenis tanaman seperti daun siri, buah siri, gambir dan lain-lain (gambir adalah pelengkap makan siri, berbentuk kubus kecil yang berwarna merah). Kampanaha ini juga digunakan sebagai wadah untuk memakan daun siri dan kelengkapannya bagi orang-orang tua. Runsa kampanaha dapat diartikan menyimpan atau meninggalkan apa yang ada dalam wadah yang di dalamnya terdapat daun siri, dan kelengkapannya. Namun selain kelengkapan yang dimaksudkan di atas, masih ada kelengkapan lain seperti telur ayam kampung sebanyak 7 biji dan daun tanaman lainnya. Selain telur ayam kampung, ada juga yang menambahkan 2 ekor ayam putih (jantan dan betina) untuk dilepaskan di dalam hutan. Intinya kampanaha yang dimaksudkan di sini dapat berarti sesajian. Jadi dapat dikatakan runsa kampanaha adalah upacara menyimpan atau menaruh sesajian.

Upacara runsa kampanaha ini dilakukan sebagai upacara untuk memasuki hutan yang akan dijadikan sebagai kebun, tempat pemukiman baru, tempat bekerja yang baru dalam hutan belantara, dan lain-lain. Dalam upacara ini pada umumnya dilakukan 1 orang yang dianggap sebagai dukun atau imam. Prosesnya adalah semua sesajian disimpan di dalam hutan, pada umumnya sesajian di simpan di dekat mata air atau pohon besar (pohon beringin). Walaupun masyarakat muna di Kabupaten Muna dapat dipastikan semua beragama Islam, akan tetapi upacara menaruh sesajian ini masih ada hingga sekarang.

Apakah maksud dari upacara runsa kampanaha ini? Menurut yang penulis dengar dari penuturan masyarakat bahwa masyarakat muna khususnya di pedesaan meyakini di dalam hutan itu ada yang menjaganya (semacam makhluk halus, jin, dedemit atau setan. Orang muna menyebut Dedemit dengan nama Wakaokili). Olehnya itu dengan mengadakan upacara runsa kampanaha ini pada penunggu hutan tidak berani mengganggu manusia yang akan mengolah hutan tersebut ataupun yang bekerja di dalam hutan itu sebab manusia itu adalah makhluk yang paling mulia. Perlu diketahui bahwa mata pencaharian masyarakat sebelumnya adalah pengolah pohon aren untuk menghasilkan air aren. Selanjutnya air aren ini dibuat menjadi gula merah. Namun seiring perkembangan waktu, hutan di muna mulai berkurang begitu juga dengan pohon aren sementara usaha untuk melestarikannya masih kurang. Hanya sedikit masyarakat yang menanami pohon aren, bahkan yang paling banyak ditanam adalah tanaman perkebunan seperti kakao.


2. Upacara Katalasa atau Kasalasa
Upacara kasalasa (katalasa) dilakukan setelah proses membersihkan hutan yang akan dijadikan kebun telah selesai dan siap untuk bercocok tanam (umumnya menanam padi dan jagung). Upacara ini sangat ramai dilakukan sebab hampir seluruh masyarakat dalam 1 desa menghadiri upacara ini walaupun tidak berkebun di daerah tadi.

Apa saja yang dilakukan dalam upacara ini? Perlengkapan upacara sebagian adalah sama dengan perlengkapan dalam upacara runsa kampanaha. Yang membedakannya adalah dalam upacara ini dilengkapi dengan 7 bilah bambu yang ditancapkan di tanah. Selain itu ayam yang digunakan dalam upacara ini bisa dilakukan walaupun hanya 1 ekor akan tetapi ayam tersebut disembelih dalam upacara ini. Maksudnya adalah upacara ini semacam rasa syukur bahwa dalam proses pembersihan lahan tidak mendapat halangan dan hambatan, serta pada saat bercocok tanam nanti, semua tanaman akan terlindung dari hama, termasuk semua makhluk halus tidak berani mengganggu manusia.

Setelah proses kasalasa selesai, selanjutnya dilanjutkan pembacaan doa yang dilakukan oleh Imam. Kemudian dilanjutkan dengan acara makan bersama, semua makanan yang telah dibawa di tempat itu tidak boleh dibawa pulang.

3. Upacara Ka Ago-ago
Proses Upacara Ka Ago-ago sama dengan upacara kasalasa, yang membedakannya adalah tempatnya. Kalau upacara Ka Ago-ago dilakukan di kebun yang baru, upacara Ka Ago-ago dilakukan di kampung yang baru. Maksud dari upacara ini adalah agar semua orang yang masuk dan tinggal di kampung tersebut selalu mendapatkan berkah, memiliki rezeki yang banyak, terlindung dari penyakit dan juga dimaksudkan agar kampung tersebut aman dan damai serta jauh dari segala kerusuhan apapun.

Selain dilakukan untuk memasuki kampung (daerah) yang baru, Upacara Ka Ago-ago juga dapat dilakukan jika di suatu kampung (negeri) terjadi banyak penyakit (terutama penyakit menular), banyak orang yang meninggal ataupun bahaya-bahaya lainnya. Dengan mengadakan upacara Ka Ago-ago ini, semua masalah dapat selesai yakni tidak ada orang yang sakit, orang yang meninggal berkurang, kerusuhan berhenti dan lain-lain.

4. Upacara Kasambuwite
Kasambu artinya pengisian. Sedangkan wite artinya tanah. Jadi Kasambu wite dapat diartikan sebagai pengisian tanah. Pengisian tanah di sini maksudnya adalah agar tanah/kebun yang akan ditanami menjadi subur dan terhindar dari hama. Proses kasambu wite ini hampir sama dengan katalasa dan ka ago-ago, yang berbeda adalah jumlah yang hadir dalam upacara.

Dalam upacara kasambu wite, yang hadir cukup 1 orang pemilik kebun dan dukun yang akan melaksanakan proses kasambu wite. Bahan yang digunakan sama dengan dalam upacara Katalasa dan Ka Ago-ago. Upacara diadakan dalam keadaan hening tidak sama dengan upacara kasalasa, di mana dalam upacara kasalasa, dihadiri oleh banyak orang.

Masih banyak upacara-upacara adat lainnya dalam masyarakat muna misalnya upacara tujuh bulan kehamilan yang disebut kasambu, upacara pemotongan rambut anak yang disebut kampua (Aqiqah), Upacara makan katumbu, dan lain-lain. Uraian penulis di atas, terutama 4 jenis upacara yang sempat dijelaskan di atas, upacara-upacara tersebut hampir punah terutama upacara Kasalasa dan Ka Ago-ago, saya menyaksikan upacara Kasalasa dan Ka Ago-ago tahun 1992. Untuk upacara runsa kampanaha masih banyak yang melakukannya begitu pula dengan upacara kasambu wite. Dalam penjelasan di atas juga mungkin ada kekurangan atau kesalahan, olehnya itu penulis memohon maaf dan saran dari semua pihak, karena tujuan penulis menulis naskah ini adalah untuk mengingatkan kembali kepada generasi muda bahwa ada upacara seperti itu dan mungkin perlu dilestarikan, di mana upacara ini mungkin dapat dikatakan memadukan antara unsur-unsur budaya asli muna dan unsur-unsur Islam.

Komentar Saya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s