ASAL MUASAL PENGGUNAAN KATA DEPAN LA DAN WA UNTUK NAMA MASYARAKAT DI JAZIRAH MUNA DAN BUTON


ASAL MUASAL PENGGUNAAN KATA DEPAN LA DAN WA UNTUK NAMA MASYARAKAT DI JAZIRAH MUNA DAN BUTON
(Suatu pemikiran komparatif)
Oleh
Salnuddin
Prolog
Pada kesempatan ini saya akan menguraikan sedikit tentang asal muasal penggunaan kata depan dari nama masyarakat di dua Jazirah (Muna dan Buton). Tulisan ini semata-mata hanya mau menyampaikan apa yang seharusnya generasi sekarang ketahui, meskipun tulisan ini adalah bagian dari rahasia sistem penamaan di negeri Muna dan Buton. Rahasia dimaksud bahwa pemaknaan sebenarnya mempunyai tanggungjawab bathin yang tinggi bagi yang menggunakannya akibat pesan “ilmu” yang terkandung dalam kata depan nama tersebut. Saya mencoba kemas uraian ini dengan menggunakan pendektan ilmiah, meskipun dasar penerapannya menggunakan pendekatan rahasia (tarekat) namun alur pikir mengaplikasikan metode justifikasi sejarah.
Sudah lama informasi ini terkumpul sedikit demi sedikit dari berbagai sumber tentang kata depan nama dari suku di Jazirah Muna dan Buton. Informasi lisan yang cenderung terungkap melalui kalimat rahasia (kabanthi) sekaligus menjadi sejarah lisan masyarakat secara bertahap terungkap melalui diskusi sampai pada prosesi debat ditingkat para solihin. Para solihin tersebut merupakan keturunan dari orang muna dan atau buton namun lahir dan besar di negeri orang. Mulanya saya menjadikannya sebagai bentuk informasi biasa, namun pada kondisi sekarang banyak “orang negeri” yang tidak memahaminya. Dengan penuh rasa hormat dan senantiasa berserah diri dan mohon ampunan dariNya saya mencoba menyusun ulang upaya pencarian asal muasal nama depan tersebut dengan kerangka berpikir yang relatif ilmiah. Relatif ilmiah saya maksud adalah penggunaan justifikasi dalam penarikan kesimpulan. Adapun jika ada dari orang muna dan buton yang terbuka waktu dan akal pikiran (ilmi) yang berlapis keimanan untuk membuktikan secara akurat dari rangkaian kerangka berpikir saya, maka hal tersebut menjadi khasanah yang lebih baik.
Tulisan ini saya sengaja buat beberapa bagian dengan harapan adanya tanggapan dari orang muna dan buton atau dari pihak manapun dalam pelurusan pemahaman makna katanya. Untuk admin for muna, tolong diedit hal hal dari tulisan ini yang sifatnya (berpotensi) menyinggung sara. Semoga apa yang saudara sampaikan dan lakukan ini dijadikan amal jariah oleh Allah SWT sekaligus diberi kesempatan untuk menyampaikan hal-hal yang lebih mengenal diri kita. Amin

1. Kandungan Makna ‘La’ Untuk Laki-laki Dan ‘Wa’ Untuk Perempuan Pada Awal Nama Suku Muna Dan Buton
Kita masih mengingat apa yang dikatakan oleh Shacespeare “Apa Arti Sebuah nama”, ungkapan tersebut tidak berlaku bagi kita yang menyatakan diri mengakui Allah SWT sebagai rabbi dan Muhammad SAW sebagai rasulnya. Hal tersebut diperlihatkan pada hadist Rasulullah Muhammad SAW tentang pentingnya pemberian nama yang baik bagi anak-anak muslimin. Dengan hal tersebut maka penyebutan nama untuk penduduk/keturunan masyarakat yang berdiam di Jazirah Muna dan Buton menjadi bermakna lebih ganda dengan menyimpan makna tertentu. Makna yang dimaksud adalah pesan dari tujuan yang diharapkan orang tua mereka dalam menggapai hikmah dalam kehidupan. Setiap kata adalah doa begitu ungkapan yang sering kita dengar. Jadi apa makna ‘La’ dan ‘Wa’ pada suku Muna dan Buton? Berikut uraiannya :
A. Ungkapan kata La dan Wa untuk masyarakat Muna dan Buton telah dipahami oleh sebagian besar masyarakat berasal dari kata “syahadat thain” (Laillaha Illallah) dan diartikan La sebagai kesatuan dari kalimat sahadat (bukan penggalan kata) dan untuk Wa bermakna yang sama untuk kalimat sahadat rasul (Washaduanna Muhammad Darasulullah).
Dengan pemahaman tersebut menyebabkan RASA BANGGA melekat bagi mereka yang menggunakan kata depan nama (La/Wa). Pemahaman konsep tersebut dapat bernilai wajar manakala memang demikian adanya, namun minimal penggunaan kata depan La/Wa menjadi pembeda dengan masyarakat lain di nusantara ini bahkan pada skala dunia. Namun serangkain pemikiran tersebut mengarahkan kita untuk berpikir (akal) dengan mempertimbangkan rasa (bathin) untuk beberapa hal sebagai berikut :
1 Mengapa tingkatan kultural penyandang nama La/Wa berada pada tingkatan lebih rendah dibandingkan dengan pengguna nama depan La/Wa+ode ??? Ada makna esistensi kalimat sahadat menjadi kecil???,
2 Kenapa tingkatan kultural dengan nama depan La/Wa+ode yang dilekatkan (satu kesatuan) dengan kalimat sahadat bukan kata La/Wa ???. Kalau demikian darimana penambahan kata “Ode” (pengadopsian kata) dengan menggunakan pemaknaan kalimat sahadat???.
3 Bagiamana pula nahu kata La (tidak/tiada) dalam kalimat sahadat ? Yang mana kata La/Wa yang ditulis tersambung pada kalimat sahadat? Sedangkan aplikasi kata La/Wa dalam penggunaannya nama masyarakat muna dan buton dibuat terpisah atau tersambung dengan nama aslinya (misalnya La Umar/Wa Ike atau Laumar/Waike)

Tiga pertanyaan diatas memberi rana berpikir kita untuk beranalisis, bukankah ilmu tanpa agama menjadikan kita “goyang” sedangkan agama tanpa ilmu menyebabkan kita menjadi “ambruk”. Semoga saja dua hal diatas membuat kita menjadi manusia yang sebenarnya (memiliki ilmu dan iman).

Terkait dengan hal tersebut, pada aplikasinya penggunaan kata La/Wa menujukkan fenomena yang lebih rancu, beberapa fenomena yang penulis jumpai antara lain;
Kata La/Wa digunakan juga oleh masyarakat diwilayah lain di luar Jazirah Muna dan Buton sebagaimana oleh Masyarakat Sangir Talaud, NTT/NTB dan Kalimantan dan masih banyak lagi suku lain di Nusantara ini yang menggunakan nama mereka dengan kata depan La/Wa. Bukti tersebut dapat dilihat dari penggunaan marga dari tiap keluarga, kisah (epik) sejarah, makam leluhur dll.

Hal yang unik lagi nama La/Wa khususnya kata depan La banyak digunakan sebagai kata depan nama mereka yang berada di Piliphina, Thailand bahkan orang-oarang di Italia dengan bukti yang sama dengan point sebelumnya.

Dengan mencermati kondisi demikian apakah hal yang spesifik dari kata La/Wa bagi orang Muna dan Buton???. Kalau mereka dikaitkan dengan keagamaan yang mereka anut, mungkin saja dapat digeneralisasi bahwa bagi yang beragama islam dapat disandangkan kata La/Wa pada mereka, dan bagimana jika mereka tidak beraga islam ?.

2. Kajian dengan Pendekatan sejarah
Untuk mahami fenomena diatas maka perlu dilakukan denga pendekatan sejarah. dari beberapa kajian tentang penggunaan nama depan nama penduduk, memberi kesan yang sama bahwa keakrabatan dengan penuh rasa hormat/takzim. Nilai-nilai tersebut menjadi dasar penggunaan kata depan, baik yang bersifat sementara ataupun bersifat tetap. Bersifat sementara seperti sapaan “Mas” bagi orang Suku Jawa yang sebenarnya hanya sapaan (bukan nama aslinya), sedangkan yang tetap seperti sapaan La/Wa (Muna dan Buton), Cut/Tengku/Teuku (Aceh), Daeng/Andi (Makassar/Bugis).

Berdasarkan uraian sejarah dari beberapa sumber maka secara umum sapaan La/Wa merupakan sapaan umum sebagaimana dengan kata “Abu” untuk sapaan bagi anak orang–orang arab. Lebih jauh lagi, kata depan La/Wa yang melekat pada nama mereka menggambarkan bahwa mereka bagian dari pengaruh budaya suku daratan yang didominasi oleh pengaruh Kerajaan Majapahit. Ini dapat terbukti pada akhir masa keemasan Kerajaan Majapahit, dimana Pati Gajah Mada melakukan pelayaran ke wilayah timur.

Pada bagian lain sapaan yang bermakna sama untuk suku pelaut menggunakan kata depan “Si”, Sapaan yang melekat pada nama mereka banyak digunakan oleh suku sama (suku bajo). Berdasarkan sejarah suku pelaut di negeri ini didominasi oleh kerajaan Sriwijaya. Dengan uraian ini maka terbayanglah karakter masyarakat yang mendiami jazirah Muna dan Buton termasuk bagaimana proses imperium dua kerajaan besar tersebut termasuk peletakaan budaya di negeri baru (simak nama para raja sebelum islam masuk di jazirah muna/buton).

3. Kenapa kata La dan Wa pada nama depan keturunan masyarakat Muna dan Buton masih digunakan?
Pada kenyataan sekarang telah banyak dari keturunan Orang Muna dan Buton tidak lagi menggunakan nama depan mereka dengan kata La/Wa, sedangkan kata depan dengan nama La/Wa + Ode makin dimunculkan. Tendensi ini bagi penulis merupakan pemahaman masyarakat di jazirah Muna dan Buton tentang kata tersebut tidak dipahami secara mendalam ataupun dalam pemahaman lain bermakna sakrar (memang sakrar) dan cenderung “buta”.

Untuk hal diatas, terdapat makna bahwa kata La/Wa bukanlah satu kesatuan dari kalimat sahadat, memang demikian yang penulis ingin sampaikan tapi “Warisan Majapihit”. Namun keberlanjutan penggunaan kata La/Wa bermakna lain sejak siar islam masuk. Pengadopsian kata La/Wa oleh islam puncaknya terjadi saat kata depan La/Wa bersambung dengan kata “ode”. Dengan memasukkan kata “ode” tersebut maka makna kata La/Wa tidak bisa terlepas dengan sendi kehidupan di jazirah Muna dan Buton sekaligus menghilangkan makna kata depan La/Wa sebagai warisan Majapahit (budaya baru).

4. Kapan kata ode menjadi bagian dari nama depan orang Muna dan Buton.

LA Ode terbentuk dari dua kata dari filologi huruf arab. La adalah singkatan kata Laillaha Illallah (jadi La bukan penggalan tapi simbolik dari Lailallaha Ilallah) dengankan ODE adalah berarti bangsawan yang ditemukan dalam literatur bahasa arab yang tua. La Ode artinya adalah orang yang mulia atau terpuji di Depan Allah. Berangkat dari kata ini maka hendaknya laah para bangsawan buton (anak-anakku) menjaga lidah, dan semua indera. Karena awalnya La Ode itu tidak diberikan kepada anak turunan HANYA DIBERIKAN KEPADA SULTAN TERPILIH. Kemudian terjadi perubahan policy oleh siolimbona (sebelumnya 8 orang, kemudian untuk mempermudah voting ditambah 1 orang lagi jadi 9/sio). Keputusan untuk memberikan nama La Ode untuk anak turunan bangsawan buton adalah UNTUK MELAKUKAN INDENTIFIKASI KEPADA ANAK TURUNAN PARA ANAK2 INI SIAPA TAU DIKEMUDIAN HARI DITEMUKAN BIBIT KEPEMIMPINAN PADA DIRI MEREKA.
nulisan La Ode dgn Laode perlu saya tegaskan jelas berbeda. Kalau La ODe artinya darah kebangsawanannya masih dianggap pantas. kalo laode maka sesungguhnya garis turunannnya sudah dicoret dari daftar terpilih untuk menjadi pemimpin di buton. Bisa juga gelar ini dicabut oleh Siolimbona bila dianggap “si anak” ini telah durhaka terhadap kerajaannya.
Pada jaman dahulu ada suatu aturan tersndiri dalam lingkungan Kesultanan Buton dimaa bila 3 turunan berturut2 kaum La Ode tidak melapor ke Buton maka secara Otomatis kebangsawanannya dianggap dicoret atau dengan kata lain tidak berhak memakai kata la Ode lagi tapi laode.
La Ode dalam proses identifikasi turunan ini menggunakan pakem garis patrilineal (garis ayah) bukan matrineal (garis ibu).

Penutup

Semoga apa yang ada ini menjadi pembuka hati kita untuk lebih tau diri, silahkan ambil makna tersirat dan tersurat dan kita dapatkan makna dan pesan dari para leluhur kita, bukankah orang baik dan ahli surga itu didasrkan pada ilmu dan amal mereka dan bukan dari nama yang mereka sandang???.
Ata dengan kata lain, pemaknaan kata La dan Wa dapat dipahami lebih bijak sekaligus semakin mempererat kebersamaan yang utuh masyarakat suku Muna dan Buton dalam lingkungan sosial yang heterogen. Marilah kita menghargai budaya kita dengan tetap merasa bangga menjadi orang Muna dan Buton yang tetap menggunakan nama depan La dan Wa.

“KEBINGUNAGAN ADALAH AWAL UNTUK MENCERMATI KEBENARAN”

5. Apa pesan dari kisah penggunaan kata La dan Wa didepan nama orang Muna dan Buton.

Kebenaran datangnya dari Allah

28 responses to “ASAL MUASAL PENGGUNAAN KATA DEPAN LA DAN WA UNTUK NAMA MASYARAKAT DI JAZIRAH MUNA DAN BUTON”

  1. arwinbee says :

    saya bangga jadi orang muna,,,jaya terus orang muna dimana pun kamu berada………..

    • Salnuddin di Ternate says :

      seharusnya, bukan hanya sekedar bangga… karena banyak yang harus kita lakukan sebagai orang muna dalam konsep menyambung amal jariah para leluhur yang telah menyusun peradaban di muna.

    • ALMAS says :

      maju trusss MASYARAKAT BUTON AQ BANGGA PADAMU HIDUP SALIWU DIMANAPUN BRADA ( BOLIMO KARO SUMANAMO LIPU )

  2. junior lolibu says :

    saya sangggggggat bangga jadi anak indonesia terutama di BUTON TERCINTAKU…..

  3. kitakasi murasaja says :

    Pertanyaan seharusnya muncul:

    Apakah penggunaan kata La/Wa dikalangan masyarakat muna dan buton digunakan sebelum atau sesudah islam masuk ke daerah ini?

    Jika setelah islam msk maka pemahaman di atas dpt diterima namun msh bth penelitian selanjutnya utk membuktikan kebenarannya apakah bnr penggunaan kata La/Wa didasari oleh makna kalimat syahadat atau tdk.

    Jika penggunaannya sebelum islam disiarkan di jazirah muna dan buton pertanyaannya kemudian muncul bagaimana mungkin penggunaan la/wa tersebut dpt dimaknai atau diilhami dari kalimat sahadat sementara menggunaanya jauh sebelum mrk mengenal islam..?

  4. La fekiri says :

    Maksud Makna Lailahaillah ialah tiada tuhan yang layak disembah hanya Allah. Lailahaillallah adalah konsekwensi dari mentauhidkan Allah….lantas tidak kah itu sangat membuat simpang siur memaknai arti kata La dan Wa tersebut….contoh nama anda LA Hami,,,akan timbul sebuah makna :: Tiada tuhan yang layak disembah hanya Allah Hami…coba direnungkan

  5. Yulhan Spenzapas Nak Scorpio'girl says :

    Kalo orang yang pake kata La Ode itu harus baik akhlak nya ,,, kenapa saat inhy d Pulau Buton banyak sekali yang mempunyai nama La Ode dan Wa Ode yang tutur bahasanya sangat tidak sopan ,,, ???!!!! Apakah sekarang kalo ada pemilik nama Wa Ode atau La Ode yang berbicara kasar ,,, kita ganti namanya menjadi Laode atau Waode ,,, ????!!!!!

  6. Yulhan Spenzapas Nak Scorpio'girl says :

    Kalo orang yang pake kata La Ode itu harus baik akhlak nya ,,, kenapa saat inhy d Pulau Buton banyak sekali yang mempunyai nama La Ode dan Wa Ode yang tutur bahasanya sangat tidak sopan ,,, ???!!!! Apakah sekarang kalo ada pemilik nama Wa Ode atau La Ode yang berbicara kasar boleh kita ganti namanya menjadi Laode atau Waode ,,, ????!!!!!

  7. Hi.Mualim says :

    Maaf atas kelancangan hamba yang bodoh ini!! Jawaban tentang nama LA dan Wa yang kalian bicarakan masih jauh dari kebenaran yang sesungguhnya..makna dari pada kata LA dan Wa bagi org Buton adalah yang sebenarnya adalah pengenalan Allah dan nabi pada diri manusia yang mana harus dipahami maksud dan tujuannya . nama LA dan Wa di sematkan pd manusia Buton itu punya arti yang dalam utk bagaimana mengenal tuhanmu secara utuh dalam diri sepasang manusia laki laki dan wanita

  8. La Ode Hamlis says :

    Menurut saya La Ode akan lebih baik jika bermakna La = Bukan/Tidak dan Ode = Bangsawan jadi La Ode bermakna “Bukan Bangsawan”. Ini akan lebih memperlihatkan kerendahan hati kita sebagai orang-orang Buton atau Muna. Jadi bukan KEBANGGAAN atau KESOMBONGAN yang ditonjolkan. “Bukankah tidak akan masuk surga seseoran yang didalam hatinya masih ada kesombongan walaupun hanya sebesar biji zarah?”

    Mohon maaf atas kelancangan saya….Tabe.!

  9. andy Usman says :

    Penggunaan nama La Ode dan Wa Ode seharusnya bukan hanya sebuah kebanggaan belaka, tetapi lebih dari itu hendaknya menjadi motivasi bagi setiap orang Buton dan Muna agar memiliki sikap, prilaku, akhlak mulia dan terpuji sesuai tuntunan syariat Islam itu sendiri…

  10. sudarlin says :

    jadi kesimpulan dari maksud penggunaan kata La dan Wa itu apa ??????????

  11. Taufiq Days La Yai says :

    menurut saya,dari apa yg telah dipaparkan diatas,saya dapat mengambil kesimpulan bahwasannya nama (LA) itu diambil dari kalimat syahadat yakni La ilaha illallah dan (WA) adalah, wa asyhadu anna muhammadarrasulullah..

  12. Hilmi putra yaman says :

    Saya lebih bangga lagi jadi orang buton.

  13. rahmat lamundu says :

    aku sngat bersyukur karna mepunyai darah keturunan suku buton……

  14. La Ode Aliasa says :

    Tidak ada urgensinya mencari tahu apa sebab atau latar belakang penamaan LA/WA bagi saya orang Muna. Yang lebih baik dari itu dan mendesak untuk dilakukan adalah peninjauan kembali berbagai macam adat kebiasaan yang berlaku saat ini yang dalam pandangan saya banyak yang keliru dan tidak relevan, bukan hanya dengan perkembangan masa kini, tapi yang terpenting: tidak sesuai dengan ajaran atau nilai-nilai Islam..

  15. odam butur says :

    LA [berasal dari huruf Alif], WA berasal dari huruf Wau]

  16. nurdin says :

    saya bngga jadi org buton,tpi makna kta La dan Wa knp sgt di permslahkn.

  17. Wahabi Tobat says :

    Memahami Buton dan Muna tidak cukup hanya menerka-nerka dan mengambil informasi dari sembarang orang, walaupun itu dianggap tokoh (ketokohannya harus diuji). Buton dan muna harus difahami secara menyeluruh, walaupun kita semua telah tahu bahwa pengaruh Islam sangat kuat, namun perlu diketahui lebih lanjut ttg mazhab apa yg dianutnya, aliran sufi apa yg dipegang dll. Saya meneliti dikawasan buton, menemukan 26 hal yg sangat kental dengan mazhab syiah 12 Imam (Itsna Asyariah/Imamiah). Contoh : Sampua/tonda’a/karia(Taklif), Male-male (Kumail),Kamali (kamali),Ba’adia (Al Bada’),Lebe (Lebeh),Ode (ode),Kawarande niburi (Kafan Jausyan Kabir),Sara Ompulu rua kaluluno (Imam 12),Kadiri (Al Ghadir Khum),Maata’a (Ma’tal/Ma’tam),Kunu (Kamis Kelabu),Pialoa (Haul),Wuta akopono (Kisah segenggam tanah/Asyuro), Wolio (Wilayah Hizbullah), Buton (Butun=perut/kandungan: Kandungan ilmu ma’rifat) Ma’rifattullah,Ma’rifat Nubuwah,Ma’rifat Imamah) itulah sebabnya di buton mengenal struktur Imam Desa, Imam Kampung dst.). dan semua itu memiliki kitab tersendiri dengan bahasan panjang. Istilah siolimbona ( rahasia 9 dari sulbi Husain), Marabat 7 (Rahasia 7 nama agung), Syech Abdul Wahid digelari Haji Pa’da (Pemegang Risalah Haji Wada dg kitab Al Ghadir Khum), Mia ngkaila-ila (Al Ghaibah/Al Mahdi),Batata melalui arwah (do’a tawasul atau wasilah Rasullullah), La (Lah= La Hua yg berarti si empunya nama Bukan Tuhan atau sederhanya si Dia adalah Hamba, lihat surat Al Ihlas: Kul Hua….dst.,dan terangkum dalam sahadah), Wa = Wa Hua (penegasan bhw Muhammad adalah Hamba mutlak. Laki2 adalah simbol kwalitas maskulin Tuhan dan Perempuan adalah simbol kwalitas jamaliah Tuhan,bersatu namun bukan sekutu dan tidak menyatu dst…, Filosofi buton sangat tinggi dan menarik. Perlu referensi sekitar minimal 3000 kitab untuk dapat menyelami lautan makna buton. Saya tidak berkesimpulan bhw buton adalah syiah sperti yg diakui oleh Aceh dan Ternate, namun saya katakan bhw sepertinya sangat sulit untuk menghindari hal ini. Dan hal ini perlu kajian lebih jauh lagi….!!!waullahu a’lam.

  18. dahlan says :

    tetap jaga keutuhan awalan nama La/Wa, untuk para generasi muda jangan pernah luntur…..maju trus Buton dan Muna

  19. La Ode M Ihsan says :

    maaf sebelumnya, kalau saya keliru,,,,menurut saya penamaan nama La/Wa+Ode, itu tidak lepas dari sejarah dan agama,,,sepengetahuan saya La Ode itu adalah sebuah gelar yang diberikan kepada mereka yang memiliki kelebihan atau yang memiliki kesaktian…contohnya seperti raja atau sultan…karena masyarakat muna dan buton umumnya beragama islam maka penamaan itu diambil dari dan atas berdsarkan islam… yang mimiliki nama seperti La Ode sebenarnya memiliki tanggung jawab yang besar bila mereka memahaminya,,,,kemudian nama LA/WA sebenarnya sama, masing2 memiliki makna dan tanggung jawab yang besar bagi yang memaahaminya, mungkin selebihnya untuk mengkaji tentang nama ini,, mungkin untuk mengkaji kadang-kadang kita bisa menggunkan akal sehat dan juga tidak mengunakan akal sehat..salam

  20. Salim Ganiru says :

    pemakaian simbol2 Kultural (La/Wa/Ode bagi kami yg sdh generasi ke tiga yg tinggal di perantauan sangat bermakna, meski juga terkadang menjadi bumerang bagi kami ketika pemakai nama dan simbol2 kultural tsb tdk beretika seperti keindahan & kemuliaan namanya. Tapi apapun yg terjadi kami tetap bangga jadi turunan orang Muna/Buton meskipun sering anak2 kami sering bertanya kami ini orang apa Pa/BU. Salam Saliwu & Taposangu sabangka

  21. La Dian Putra Lalibo says :

    inodi mieno saliwu..

  22. La Dian Putra Lalibo says :

    Salam kompak dan damai semua mieno wolio…

  23. Putera Gu says :

    LaDian Putra Lalibo saya mau tanya sejak kapan Lalibo menjadi wolio ???

  24. La Ode M Nanang Pribadi Rere says :

    La Ode Amir Jaya, S.Si
    Nama Raja Murhum/Sultan Murhum kok tidak ditampilkan nama yang sebenarnya (nama yang sebenarnya La Kila Ponto, Murhum itu adalah gelarnua). La Kila Ponto adalah putra Raja Muna VI La Manuru (Sugi Manuru) yang menjadi raja karena memenangkan Sayembara yang diadakan oleh raja La Elangi (Raja Mulae, atau Raja Dayanu Ikhsanudin. Raja Mulae juga adalah gelar dari raja La Elangi, kemungkinan beliau adalah Raja yang pertama kali masuk Islam sebelum La Kila Ponto karena setelah La Kila Ponto, Raja Muna La Posasu kemungkinan juga telah masuk Islam setelah masuknya La Kila Ponto ke dalam ajaran Islam).

    La Kila Ponto sebelumnya adalah Raja Konawe, kemudian menjadi Raja Muna menggantikan Ayahnya Sugi Manuru (karena Beliau adalah Putra Tertua dan dipilih oleh Dewan Sara Muna), karena memenangkan Sayembara di Buton, maka Raja La Elangi (Raja Mulae/Dayanu Ikhsanudin) memberikan tahtanya kepada Beliau.

    Sedangkan raja Muh. Idrus itu nama sebenarnya adalah La Ode Muhamad Idrus. Beliau sebelumnya menjadi raja muna dan beliau putra Raja Muna La Ode Ahmad Maktubu. Setelah La Ode Ahmad Maktubu meninggal karena jatuh di jembatan tula (digelari minalo we kaleleha) digantikan oleh putranya La Ode Muhamad Idrus. Setelah Sultan Buton La Dani, yang pilihan Dewan Sara Buton jatuh ke La Ode Muhamad Idrus karena diharapkan dengan dipangkunya jabatan sultan oleh beliau diharapkan hubungan antara Muna dan Buton saat itu akan baik sebab sebelumnya Muna ditetapkan sebagai Under Afdeling Buton oleh Belanda secara sepihak pada masa pemerintahan La Ode Ahmad Maktubu.

    Selama masa pemerintahannya, Raja La Ode Muhammad Idrus mengembalikan peralatan kerajaan muna ke muna yang pernah di bawah Raja La Ode Ngkaili (La Ode Ngkaili adalah raja Muna yang ditunjuk oleh Sultan Buton atas hasutan Belanda, sebab saat itu muna tidak berdaya, maka Dewan Sara Muna dengan terpaksa menerima Raja Tersebut. Akan tetapi Raja La Ode Ngkaili tidak lama menjadi Raja dan selama masa pemerintahannya banyak perlengkapan kerajaan muna dibawa di Buton. Raja La Ode Ngkaili hanya memerintah 1 tahun karena tidak Dewan Sara Muna tidak menyetujuinya secara mutlak). Raja La Ode Muhamad Idris meninggal di Waara yang digelari Milano te Waara.

Komentar Saya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s