Kota Tua Raha, Sekilas Wajah Kejayaan Muna Tempo Dahulu


Oleh : R. Heru Hendarto (versi edit telah terbit di Majalah Garuda Inflight Juni 2011)

Pukul 15.10, kapal MV Sagori Express dari BauBau berlabuh sejenak di pelabuhan Raha. Dua jam perjalanan laut yang penuh dengan pemandangan indah sepanjang Selat Buton antara Pulau Buton dan Muna sungguh telah menghibur saya. Selanjutnya saya pun turun dan menginjakkan kaki di kota kabupaten yang baru berkembang ini. Riuh suara penumpang yang hendak turun ataupun naik melanjutkan perjalanan ke Kendari, bercampur-baur dengan teriakan penjaja makanan kecil, porter pelabuhan dan tukang ojek yang menawarkan jasanya. Saya segera menghampiri Rahman, seorang tukang ojek yang sedang bediam diri di pinggir dermaga, untuk mengantarkan saya ke tujuan pertama saya, kota Tua Muna.

Perjalanan ke Kota Tua terasa menyiksa sekali, saya terguncang-guncang melewati jalanan tanah berbatu sejauh 30 km ke selatan Raha. Satu-satunya yang menghibur saya adalah hijaunya pemandangan kebun dan hutan yang berjejer di pinggir jalan. Di beberapa tempat tampak rumah-rumah kayu khas Muna yang tersebar terpencil di pinggir-pinggir jalan desa. Sore itu sepi sekali jalanan kami rasa, kami hanya berpapasan dengan dua buah sepeda motor dan sebuah mobil. Cemas sempat hinggap di perasaan saya, jika sampai kami mengalami gangguan motor, misalnya ban bocor, maka dipastikan kami akan bermalam di tempat itu.

Bertanya dua kali ke warga setempat yang sedang duduk-duduk di pinggir jalan, sampailah kami di pusat Kota Tua Muna. Kampung Lama, demikian banyak orang menyebut daerah ini, saat ini hanya tersisa sebuah mesjid yang gagah berdiri di tengah hijaunya lembah desa. Di sekelilingnya tampak putaran bukit gamping yang berwarna putih abu-abu seolah-olah membentengi mesjid ini dari segala arah. Saat itu waktu ashar telah tiba, saya menaiki undakan tangga mesjid dan menemukan bahwa kami berdua lah yang hanya menjadi tamu mesjid itu. Melongok ke dalam ruangan mesjid yang terkunci, saya baru sadar bahwa tempat ini sudah dirombak total. Bangunan seluas 400m2 ini telah dipugar dan menenggelamkan arsitektur awalnya yang konon sangat menarik. Di luar, puluhan pilar dengan gagah berdiri di atas lantai beton yang menopang atapnya. Lumayan modern tampaknya, dengan rangka-rangka besi yang menghubungkan bagian per bagian. Namun di dalam, saya menemukan bahwa pondasi utama berupa sebuah pilar yang kokoh masih menopang kubah dua tingkatnya yang menjadi penciri khas mesjid ini. Tentu saja, pilar tersebut sudah digantikan dengan beton. Mihrab di bagian depan tampak sederhana, hanya berupa meja kayu tinggi di pinggir kiri dan di kanannya terdapat dua ruang untuk imam dan pengurus mesjid. Seperti halnya mesjid-mesjid agung di daerah lain, seorang imam mesjid yang dituakan akan dipilih untuk menjadi panutan umat. Demikian pulalah halnya yang dengan Yaro Imamu Robine (petinggi Mesjid Agung) Muna, Wa Ode Ghito yang wafat pada tahun 1963 dalam usia 120 tahun! Pusaranya diabadikan di sisi selatan mesjid, bersandingan dengan cucu kesayangan beliau La Ode Manenti Woro. Tampak sebuah batu nisan berbentuk yoni tegak berdiri diapit keramik pualam hitam sebagai penanda makam imam besar tersebut.

Tertarik dengan cerita rakyat akan asal-usul Kerajaan Muna, kami kembali meluncur ke selatan. Kira-kira 10 menit kemudian kami punberhenti di persimpangan kecil. Diiringi seorang bapak tua, saya, Rahman, dan seorang anak kecil sebagai guide berjalan menembus jalan setapak berbatu menuju ke dalam perbukitan. Tiga ratus meter kemudian, Sang Bapak Tua menunjuk sambil berkata : “Ini dia dek, tempatnya asal-usul kerajaan Muna itu”. Saya pun teringat akan legenda terdamparnya kapal putra Raja Luwu, Sawerigading dalam salah satu pelayarannya di salam satu pulau. Sebelum kembali ke Luwu, Sawerigading meninggalkan anak buahnya sejumlah 40 orang, mendirikan suatu kampung bernama Wamelai yang menjadi cikal-bakal penduduk Muna. Kapal yang kandas tersebut dikisahkan membatu dan menjadi suatu bukit yang disebut Bahutara yang berarti bahtera. Setengah mati saya berusaha memvisualisasikan bentuk bukit di kanan saya agar mirip dengan perahu, namun tidak pernah berhasil. Akhirnya, saya melewatkan tempat ini sementara dan terus berjalan memasuki jalan menuju Kontu Kowuna. Lima belas menit langkah saya terhenti saat Si Bapak menahan pundak saya. “Inikah Kontu Kowuna itu?”, pikir saya dalam hati. Di luar dugaan saya, Kontu Kowuna yang berarti bukit berbunga sebagai asal-muasal nama Muna ini ternyata terdiri dari tiga buah bukit kecil. Bukit-bukit gersang tersebut tampak ditumbuhi sejenis rumput yang berwarna putih tulang. Dahulu, rumput yang bertebaran memberi kesan ”berbunga” ini dipercaya memiliki kesaktian. Prajurit Muna yang hendak berperang selalu mengambil rumput ini sebagai ajimat dan dipercaya mereka akan kembali dengan selamat. Saat ini, masyarakat sekitar masih mempercayai khasiatnya sebagai obat segala penyakit. Cukup dengan mengambil sejumput dan diminum dengan air hangat maka dipercaya segala penyakit akan lenyap. Saya sangat beruntung diberi sejumput bunga itu karena keberadaannya yang jarang sekali.

Penasaran dengan Bahutara, kami pun melangkah kembali ke tempat semula. Begitu saya lepas dari jejeran bukit-bukit mungil Kontu Kowuna, barulah mata saya terbelalak. Saat itu tampak dengan jelas visualiasi perahu dari Bahutara tegak menjulang di sisi kiri. Bukit berbentuk perahu dengan panjang kurang-lebih 40 meter itu memiliki haluan yang menghadap ke selatan. Semakin penasaran, saya melangkahkan kaki mendaki sisi selatan bukit, saking semangatnya saya tiba di bagian “buritan” dengan terengah-engah. Di atas, saya mendapati bahwa di bagian tengah terdapat lorong berupa gua-gua kecil yang umum terdapat di dalam bebatuan gamping. Ada sebuah gua yang lumayan besar dan mengarah ke bawah, namun saya urungkan niat memasukinya karena tidak membawa peralatan yang cukup. Saya hanya melongok sebentar dan takjub, ternyata keberadaan lorong-lorong gua ini cocok dengan cerita adanya ruangan di dalam kapal yang dulunya berfungsi sebagai “kabin”. Rahman, si tukang ojek, pun tidak kalah antusiasnya dari saya. “Maklum, saya asli dan besar di sini tapi baru pertama kali ke sini Pak!”, imbuhnya sambil tersenyum malu. Saya hanya tertawa kecil, hal seperti itu bukan barang baru buat saya.

Dari atas bukit Bahutara, saya melayangkan pandangan ke sekeliling. Di lembah di bawah kaki, tampak atap hijau dua tingkat Mesjid Tua Muna yang saya kunjungisebelumnya. Sayang sekali, benteng batu yang dikisahkan mengelilingi kerajaan ini sepanjang 8 kilometer dan setebal 3 meter sudah tidak tampak. Jika masih ada dan terjaga, pastilah mahakarya itu akan menjadi “saingan berat” dari benteng kerajaan Buton di BauBau yang sedang menanti pengakuan sebagai benteng terluas di dunia. Namun, pemandangan yang indah di bawah dari indahnya lembah yang menghijau dipagari jejeran putihnya bukit-bukit gamping cukup menghibur hati. Terlebih-lebih, baru saya sadari jika semua rumah di daerah ini masih mempertahankan ciri tradisionalnya. Rumah-rumah panggung dengan bahan kayu polos berwarna coklat tampak kuno dengan ornamen pintu dan jendelanya yang khas. ”Walau sudah lebih ratusan tahun legenda berlalu, kami tetap berusaha mempertahankan budaya warisan nenek moyang kami”, kata Pak Tua dengan suara bergetar. Salut dengan semangat beliau, saya pun menyampaikan rasa terima kasih tak terhingga atas kesediaannya mengantar kami walau pun beliau bukan juru kunci daerah itu. Saya pun pamit dan kembali menuju Raha sebelum malam tiba.

Esok paginya, saya kembali menyetop tukang ojek yang melintas di pinggir pesisir Raha. Tawar-menawar kilat pun terjadi dan deal, saya pun diantarkan kembali ke arah selatan menuju danau Napabale yang cukup terkenal. Saya baru sadar jika perjalanan saya kemarin melewati persimpangan Napabale. Danau, atau lebih tepatnya laguna seluas sepuluh kali lapangan bola ini terletak 15 km selatan Raha. Airnya yang berwarna hijau tosca bening sangat memikat hati. Suasananya sangat senyap, tidak ada debur ombak atau pun pantai di sini. Dasar danau berupa pasir lembut berwarna putih hasil rombakan gamping terumbu. Di beberapa tempat tampak mencuat pulau-pulau mini dari gamping, benar-benar tempat yang romantis! Saya beruntung sekali karena di pagi yang sepi itu, saya menemukan seorang pemuda yang bersedia mengantar saya mengelilingi danau dan tentu saja, menembus melewati lorong menuju laut. Syaiful, pemuda lajang 19 tahun dengan cekatan mendayung perahunya mengelilingi sisi selatan danau. Ternyata, sembari menuju lorong ke laut, di bagian itu terdapat beberapa rumah nelayan yang difungsikan sebagai tempat pengolahan ikan. Berbagai ikan segar hasil laut diawetkan dengan cara dijemur berjejeran dan digarami. Mereka sepertinya jarang bertemu pelancong di hari biasa, tampak dari raut wajahnya yang berubah ceria saat melihat saya dari kejauhan.

Debar jantung saya menjadi-jadi saat mendekati lorong menuju laut hasil pahatan alam ini. Bukan apa-apa, muka air laut saat itu masih tinggi menurut saya, namun Syaiful tenang-tenang saja. “Tenang saja Pak, air sudah mulai surut, kita pakai perahu kecil jadi pasti sudah bisa lewat”, ujarnya penuh percaya diri. “Okelah, penumpang turut supir “, jawab saya pendek. Memasuki mulut lorong, sempit sekali rasanya bagi saya, walaupun lebarnya mencapai sekitar 9 meter dengan panjang 30-an meter, kami hanya leluasa melalui jalur zig-zag selebar 3 meter saja. Beberapa kali saya harus menundukkan kepala menghindari tonjolan-tonjolan stalagtit kecil di atas lorong.

Sekitar kurang dari lima menit kami melewati lorong itu dan sampailah kami di ujung. Fikir saya, muara lorong itu adalah laut luas Selat Buton, ternyata sisi ujung itu bermuara ke tempat yang menurut saya masih saja tertutup. Jejeran benteng perbukitan gamping yang mengitari dan pulau-pulau kecil yang mencuat membuat saya seolah-olah memasuki Danau Napabale kedua. Bedanya, di sini dasar laut tampak dalam sekali. Tidak tampak lagi dasar pasir putih di bawah, hanya hijau kelam membayang. Di sisi-sisi pantai yang hanya secuil, tampak beberapa rumah nelayan dan bagang-bagang. Bagang adalah rangkaian perahu yang digunakan untuk menangkap ikan di malam hari. Jika kita melewati perairan Sulawesi di malam hari dan melihat terangnya lampu neon atau petromaks di laut, dipastikan itu adalah bagang atau wanggan, sebagai mana dilafalkan berbeda di daerah lain. Daerah ini, menurut Syaiful, adalah “rest area” bagi nelayan di sini. Para nelayan yang berdiam di desa Napabale, jika hendak kembali ke desa dan air laut sedang naik maka mereka harus menunggu di sini sampai perahu kecil mereka bisa menembus lorong danau.

Saya tidak bernyali untuk meneruskan perjalanan ke luar menuju Selat Buton hanya bermodalkan perahu kayuh kecil milik Syaiful tersebut. Akhirnya sisa waktu hanya saya habiskan memutari tempat itu lalu kembali memasuki lorong untuk kedua kalinya dan memutari sisi utara danau menikmati eksotisme keindahan tempat ini. Tidak mengherankan, ratusan turis manca negara datang ke tempat ini setiap tahunnya di musim panas hanya untuk menikmati jernihnya hijau air Napabale dalam pahatan alam yang begitu indah hasil karya tiada tara Sang Maha Pencipta.

Where to Stay :

Hotel Berlian (0403-21316) terletak dekat dengan pelabuhan dan pusat kota serta memiliki pemandangan malam yang cukup indah. Hotel lain seperti Alia (0403) 21150 juga cukup nyaman untuk disinggahi.

What to Do :

Raha adalah kota kecil yang terletak di pinggir timur pulau Muna. Tata ruang kota relatif memanjang mengikuti bentuk pesisir. Menjangkau tempat-tempat di Raha, seperti halnya kota-kota lain di Indonesia Timur, dapat dengan menggunakan ojek. Tarif sekali jalan dalam kota jarak dekat berkisar antara 3.000 hingga 5.000 rupiah dan bila ingin menyewa seharian full day, harga 60.000 all in biasanya akan cukup memuaskan si tukang ojek.

Menuju Kota Tua, dapat ditempuh selama 1 jam perjalanan dengan ojek sehingga waktu 4 jam cukup untuk mengeksplorasi tempat-tempat bersejarah di sana. Khusus untuk ke Danau Napabale, tersedia pula angkot dengan tarif 6.000 rupiah. Tempat-tempat wisata lain seperti Liang Kobori hanya dapat ditempuh dengan ojek karena medannya yang berat. Itupun masih harus disambung dengan berjalan kaki di lereng perbukitan kapura

Tag:, , , , ,

Komentar Saya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: