ASAL KATA MUNA (Menelusuri Asal Muasal Kata “Muna” sebutan Salah Satu Suku Besar di Sulawesi Tenggara dalam Bahasa Indonesia)


Pulau Sulawesi saat ini terdiri atas 6 propinsi yakni Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Di Sulawesi Tenggara terdapat 3 suku besar, yaitu:

1. Suku Muna (Wuna)
Bahasa penduduknya adalah bahasa Muna (Wamba Wuna). Suku muna ini memiliki beberapa rumpun suku misalnya rumpun suku kulisusu yang mendiami pulau buton bagian utara.

2. Suku Buton (Wolio)
Bahasa induknya adalah bahasa Wolio dan memiliki beberapa sub suku yakni Wolio sebagai suku induknya (mendiami kota bau-bau dan sebagian besar kabupaten buton), Wanci (Wakatobi), Cia-cia (Buton), Moronene (Bombana), Kalidupa (Wakatobi), Tomea (Wakatobi), Binongko (Wakatobi) dan rumpun lainnya yang bahasanya merupakan perpaduan dua bahasa besar yakni bahasa muna dan wolio..

3. Suku Tolaki
Suku tolaki mendiami Kota Kendari, Kabupaten Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara, Kolaka dan Kolaka utara. Bahasa yang digunakan adalah bahasa tolaki dengan dua dialek yang berbeda yakni dialek Wawonii dan dialek Mekongga.

Selain suku-suku pribumi di atas, di sulawesi tenggara juga dijumpai suku-suku pendatang yang jumlahnya sangat banyak, misalnya suku bugis, makassar, jawa dan bali. Masih ada suku-suku lain tetapi jumlahnya sangat kecil misalnya suku toraja, mandar, sunda, madura, batak, sangihe, minahasa, mongondow, gorontalo dan etnis cina.

Muna (Wuna) dahulu adalah sebuah kerajaan di Sulawesi Tenggara yang wilayahnya meliputi di Pulau Muna Bagian Utara, Pulau Buton Bagian Utara dan Pulau-pulau kecil di sekitarnya. Raja Pertama Muna bernama La Eli yang bergelar Bheteno ne Tombula (yang muncul dari batang tolang/sejenis bambu) dengan permaisurinya bernama Wa Tandi Abe, sedangkan Raja Muna yang terakhir bernama La Ode Rere, setelah La Ode Rere muna sebagai suatu kabupaten dengan bupati pertamanya adalah La Ode Abdul Kudus.
Kata Muna adalah sebutan suku Muna jika menggunakan bahasa Indonesia. Suku-suku lain di Sulawesi Tenggara menyebut Muna dengan sebutan Wuna sama halnya degan orang Muna sendiri. Kadang-kadang Kata Wuna dihubungkan dengan kata Kontu Kowuna (Batu Berbunga). Hal ini dapat dilihat dalam ucapan sehari-hari masyarakat muna jika menyebut kota (kota kuno) masa pemerintahan raja-raja dahulu dengan sebutan wuna. Misalnya seorang yang akan berencana pergi ke kota kuno dalam bahasa muna bertutur seperti ini: Insaidi ta romoraeaha te Wuna nae wine, artinya: kami akan merayakan hari raya di kota kuno (Wuna) besok. Kalimat ini jika diucapkan oleh orang di luar tanah muna bisa berarti Kami akan merayakan hari raya di Muna Besok.

Siapakah yang memberikan nama Muna sebagai sebutan untuk wuna. Arti Wuna adalah bunga. Sedangkan dalam bahasa Arab kita dapat menjumpai kata muna yang berarti harapan. Mungkinkah kata Muna berasal dari bahasa Arab? Kemungkinan besar ada, sebab tetangga Muna yakni buton bisa dipastikan juga berasal dari bahasa Arab (kata Butuuni).

Kemungkinan lain adalah Muna berasal dari bahasa Hindi (India) yang berarti menawan, elok, indah permai. Batu berbunga di Pulau Muna jika dipandang sangat elok, tanah yang subur, keindahan pantai napabale dan lain-lain. Pengaruh kebudayaan Hindu juga masih ada sampai sekarang, misalnya upacara Katalasa (upacara sebelum bercocok tanam), stratifikasi masyarakat muna dibagi membagi 4 golongan yakni:

  1. Golongan Kaomu (mirip Kasta Ksatria dalam agama Hindu). Golongan adalah golongan yang berhak menjadi raja, panglima perang, kapita lau (kapten laut), dan lain-lain yang intinya sebagai penguasa.
  2.  Golongan Walaka (Mirip Kasta Brahmana). Golongan ini adalah golongan yang berhak menjadi Perdana Menteri (Bonto Balano), Pemangku Adat, Dewan Sara (semacam DPR di negara kita, Dewan Sara bertugas memilih, mengangkat dan memberhentikan raja), menteri-menteri dan ada juga yang menjadi bontono liwu (pejabat kampung) namun pejabat kampung ini kadang juga dipimpin oleh golongan Kaomu.
  3.  Golongan Anangkolaki (Mirip kasta Waisya). Golongan ini adalah mereka yang ahli dalam perdagangan, pandai besi dan lain-lain.
  4.  Golongan Maradika (Mirip kasta Sudra). Golongan ini adalah golongan rakyat jelata.

Pembagian golongan ini dimulai masa pemerintahan Raja Muna VI yang bernama La Manuru (Sugi Manuru). Dialah menggolongkan masyarakatnya ke dalam empat lapisan, walaupun tidak ada bukti sejarah bahwa pada masa pemerintahannya Agama Hindu diterima oleh negara. Raja Sugi Manuru ini juga kawin dengan putri Raja Ternate (kemungkinan Raja Ternate yang dimaksud adalah Ayahanda dari Raja Hairun, kemungkinan istrinya adalah saudara kandung Raja Hairun. Raja Hairun adalah Raja Ternate yang pertama kali masuk Islam). Anak dari Raja Sugi Manuru yang pertama kali masuk Islam adalah La Kila Ponto (Raja Muna VII) setelah menjadi raja buton VI dan sekaligus menjadi Sultan Buton yang pertama (setelah meninggal beliau digelari Murhum. (Mungkin saja kata Murhum ini berasal dari kata Almarhum, atau ada kaitannya dengan nama Kaicil Marhum. Kaicil Marhum adalah Sultan Ternate ).

Dengan datangnya Islam baik di Muna maupun di Buton, di Mun sendiri sistem pemerintahan berubah. Di mana dalam agama Islam dikenal tiga orang pemuka agama di Muna yakni Imam (Imamu), Khatib (Hatibi) dan Modji. Jabatan Imam dipegang oleh golongan Kaomu, Khatib dipegang oleh golongan Walaka, sedangkan jabatan Modji dipegang oleh golongan anangkolaki. Setelah kemerdekaan Indonesia sampai saat ini yang Imam sudah bisa dijabat oleh golongan Walaka dan sampai saat ini sangat jarang ditemukan golongan anangkolaki dan maradika menjadi imam.

Dari uraian di atas, penulis memberi kesimpulan bahwa asal kata muna dapat dipastikan bahwa jika tidak berasal dari bahasa Arab, kata muna berasal dari bahasa India (Ada daerah di India yang bernama Muna saat ini).Wallahu A’lam


Tag:, , , ,

One response to “ASAL KATA MUNA (Menelusuri Asal Muasal Kata “Muna” sebutan Salah Satu Suku Besar di Sulawesi Tenggara dalam Bahasa Indonesia)”

  1. Wahabi Tobat says :

    Murhum berasal dari bahasa persia, yang berarti pemimpin, walaupun dalam bahasa persia ada kata lain yg lebih populer yaitu Rahbar (pemimpin besar), seperti dalam tulisan saya sebelumnya bahwa pengaruh Islam yg bermazhab syiah terlihat sangat kuat di buton dan Muna. Lebih2 berhubungan dengan Ternate yg memang mrk telah mengakui bermazhab syiah, pernyataan ini diakui langsung secara resmi oleh pihak pewaris kesultanan Ternate. Telusuri kitab-kitab Islam bermazhab syiah Itsna Asyariah, maka kita akan terkejut dengan fakta2 adanya persamaan besar hampir dalam setiap aspek budaya dan kepercayaan buton dan Muna, bahkan dalam setiap istilah budayanya. Walaupun ini tidak seratus persen krn telah dibalut dg budaya lokal dan keyakinan sebelum Islam masuk, namun masih sangat mudah untuk mengenali akarnya. Contohnya; Kitab Do’a Kumail, sangat lekat dan sama persis tata cara pembacaannya dan sekian banyak kalimat didalamnya memiliki persamaan dengan Male-male (sekarang banyak yg sudah meningalkannya dan hampir tidak dikenal lagi, kecuali disekitar suku holimombo pasar wajo).

Komentar Saya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s