Kiasah Tentang Tua Sare/ La Baaluwu


Ewa Wuna, Pencak Silat khas Wuna  Foto ; https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS2zYDZclZHxizw3yzevNg8rZZZs6PszcviePLy21ljiI0gfdQeeQ

Raja Muna pertama adalah La Eli/ Baidhul Dhamani gelar Bheteno Netombula putera Raja Luwu, namun ada juga yang mengatakan bahwa Bheteno Netombula kemungian keturunan Raja-Raja Majapahit yang terdampar di Pulau Muna. Ada juga yang mengisahkan La Eli adalah Sawerigang, Putera raja Luwu, Kerajaan tertua di Sulawesi Selatan. Kisah tentang Sawerigading ini diceritakan dalam epik I Lagaligo.

Dugaan La Eli berasal dari Kerajaan Majapahit, karena nama lain dari La Eli adalah Baidhul Dhamani, yang diperkirakan akibat pengaruh agama islam. Sedangkan dugaan La Eli adalah Sawerigading karena menurut tradisi lisan masyarakat Muna, kapal Sawerigading paerna terdampar di pulau Muna. Kisah terdamparnya Sawerigadi tersebut sebagaimana yang berkembang dalam tradisi lisan masyrakat Muna sebagai awal terbentuknya Pulau Muna. Hal lain yang memperkuat dugaan itu adalah dikisahkan, La Eli/ Baidhul Dhamani menikahi seorang Gadis yang dalam kondisi hamil yang bernama Wa Tandi abe. Nama ini memilikn dinikai kemiripan dengan We Tendriabeng, saudara kembar Sawerigading yang sepmpat akan dinikahi, namun ditentang ayahandanya dan petinggi kerajaan Luwu karena itu bertentangan dengan Norma adat yang diyakini oleh masyarakat Kerajaan Luwu.

La Eli/ Badhul Dhamani, mendapat gelar Beteno netombula,  sebab berdasarkan tradisi lisan masyarakat Muna dia ditemukan dalam rumpun bambu oleh serombongan orang yang ditugaskan mencari bambu pada saat Mieno Wamelai (salah seorang pemimpin kampung di Muna) akan mengadakan pesta. Rombongan yang menemukan La Eli/Baidhul Dhamani dalam rumpun bambu tersebut dipimpin oleh Mieno Tongkuno. 

Bheteno Netombula menikah dengan Tandri Abe yang ditemukan terdampar di laguna Napabale beberapa saat setelah penemuan Bheteno Netombula.Perkawinan keduanya melahirkan tiga orang anak yaitu Runtu Wulae, La Aka/ Sugi Patola dan Kilambibito.

Setelah Dewasa Runtu Wulae kembali ke Luwu negeri leluhurnya kemudian menjadi raja di sana, sedangkan La Aka/ Sugi Patola menjadi Raja Muna II dan Kilambibito menikah dengan La Singkabu Mieno Wamelai. Suatu waktu ketika Sugi Patola menjadi Raja Muna dan Runtu Wulae telah menjadi Raja Luwu, Sugi Patola mengadakan perlawatan di Negeri Luwu menemui saudaranya Runtu Wulae. 
Pada saat Kembali ke Muna, Sugi Patola meminta pada saudaranya agar diperkenangkan untuk membawa beberapa orang yang memiliki keahlian seperti bertani, membuat kapal dan menyadap nira ke kerajaan Muna. Salah seorang yang dibawah tersebut yaitu yang memiliki keahlian menyadap, diangkat menjadi juru sadap pribadi raja dan diberi gelar ‘Tuasare’ ( bahasa bugis: tukang sadap tuak). 
Setiap hari Tuasare harus menyediakan kameko ( sejenis tuak dari pohon enau) untuk kebutuhan raja dan tamu-tamu raja. Apabila dia tidak mampu menyediakan kameko seperti yang diminta raja maka Tuasare mendapat hukuman dicambuk. Karena seringnya dicambuk maka luka bekas cambukan tersebut membekas dipunggunnya.

Suatu pagi saat Tuasare hendak melakukan aktifitasnya menyadap enau tiba-tiba dia menemukan seseorang telah mendahluinya diatas pohon. Melihat hal itu Tuasare sangat berang, dan begitu orang yang mencuri ‘kameko’ nya turun langsung disambutnya dengan tikaman, bacokan serta pukulan. Orang yang diserangtersebut ternyata tidak mau mengalah begitu saja sehingga terjadi perkelahian yang sengit. Hampir sore perkelahian itu belum juga berhenti hingga akhirnya lawan Tuasare menyerah.

“ ampun….. saya menyeraha…. asal kamu tidak bunuh saya apapun yang tuanku minta saya akan penuhi ” Ratap lawan Tuasare tersebut yang ternyata siluman.

“ Saya mau membebaskanmu asal kamu bisa menjadikan saya seperti tuanku” bentak Tuasare.

“ Oke permintaan tuanku saya penuhi” jawab siluman itu. 
Ajaibnya dalam sekejab Tuasare berubah menjadi sepotong bambu. Potongan bambu tersebut kemudian dibawah oleh siluman itu ke Wadiabero, Pulau Muna bagian Selatan yang saat ini masuk dalam wilayah administrasi Kec. Wadiabero Kabupaten Buton dan membuangnya kelaut .

Beberapa saat kemudian seorang nelayan dari Baruta, kampung sekitar Wadiabero yang sedang mengambil bubunya di pantai menemkan bubu yang dipasangnya tidak berisi ikan atau binatang laut lainnya,  tetapi sepotong bambu. Menganggap potongan bambu itu adalah potongan bambu biasa maka dia kembali membuangnya kelaut dan melanjutkan mengambil bubunya yang lain. Tapi betapa terkejutnya dia begitu bubunya diangkat ternyata isi bubunya bukan ikan tetapi bambu yang sama yang beberapa saat yang lalu dibuangnya.

Kejadian sama terjadi sampai tiga kali sehingga nelayan tersebut memutuskan untuk tidak melanjutkan mengangkat bubunyayang lain tetapi langsung pulang kerumah dan membawa potongan bambuitu. Sesampainya dirumah nelayan itu menyimpan bambu yang didaptnya tadi di ‘sikua” sudut rumahnya.

Sejak bambu yang ditemukan saat mengangkat bubu tersebut ada dirumah nelayan itu terjadi hal yang aneh, dimana setiap hari air yang ada dalam bhosu ( tempat air yang terbuatdari tanah liat ) setiap pagi didapatinya dalam keadaan kosong padal sorenya telah diisi penuh. Mendapat hal yang aneh tersebut, nelayan itu kemudian menyusun siasat untuk mengintip siap sebenarnya yang telah memakai airnya. Suatu subuh dalam pengintaiannya, nelayan itu mendapati seorang laki-laki sedang mandi memakai air dalam bhosu yang telah diisi sore kemarin.

Merasa sudah cukup bukti akhirnya nelayan itu menangkap lelaki yang mencuri airnya tersebut. Namun betapa terkejutnya sebab orang yang ditangkap itu mengaku jelmaan dari bambu yang ditemukan di laut dan dismpinnya di sikua dan bernama La Baaluwu ( Orang dari Luwu). Tidak percaya dengan pengakuan laki-laki tersebut nelayan itu bergegas melihat bambu yang telah disimpanya di sikua bebeapa hari yang lalu. Anehnya bambu tersebu tternyata benar-benar sudah tidak ada.

Setelah kembali menjadi manusia normal, Tuasare ( La Baaluwu) kemudian berpamitan pada orang yang telah menemukannya untuk pergi menuju ke Negeri Wolio yang kabarnya Rajanya Seorang perempuan ( Bulawambona ) belum bersuami. Sesampai di Kerajaan Wolio, La Baaluwu menghadap ke istanah kerajaan Wolio dan melamar Raja Bulawambona untuk dijadikan issterinya. Setelah lamarannya diterima maka resmilah mereka menjadi Suami Isteri.

Salah seorang anak dari La Baaluwu dengan Bulawambona diberi nama Banc(s)a Patola yang artinya mayang patola. Penamaan itu utuk mengenang tuanya Raja Muna II Sugi Patola, yang telah membawahnya dari Kerajaan Luwu ke Kerajaan Wuna.

Komentar Saya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s