Main Layang-layang dan Mengenal Indahnya Muna


MUNA, KOMPAS.com – Kota Raha, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, tidaklah sepopuler Bali atau Yogyakarta. Padahal, ada segudang potensi wisata di tempat itu. Demi mempromosikan dirinya kepada dunia luar, pemerintah daerah setempat mengenalkan diri melalui layangan. Banyak penggemar layangan dari mancanegara memburu festival ini dan rela pergi jauh demi bisa main layangan di Muna.

Untuk ketiga kalinya festival layang-layang internasional digelar di Kota Raha. Acara yang berlangsung pada 11-14 Agustus ini diikuti 22 peserta dari delapan negara yaitu Jepang, Prancis, Taiwan, Malaysia, Jerman, India, Cina, dan Swedia. Acara ini juga dikuti 13 provinsi di Tanah Air dengan peserta sebanyak 26 orang.

Wakil Gubernur Sultra, H.M. Saleh Lasatta ketika membuka acara Festival di Kota Raha, Selasa (11/8), mengharapkan pelaksanaan festival ini selain dapat memberikan nilai tambah bagi ekonomi masyarakat Kabupaten Muna, juga dapat menjadi momen yang tepat untuk mempromosikan berbagai obyek wisata. Muna memiliki sejumlah obyek wisata menarik seperti obyek wisata Liang Kabori, permandian Danau Napabale dan kegiatan perkelahian kuda.

Berdasarkan hasil penelitian, kata Lasatta, Sultra memiliki situs sejarah terbesar kedua di Tanah Air, setelah Daerah Istimewa Yogyakarta, yakni salah satunya Benteng Keraton Buton yang merupakan benteng terpanjang di dunia.

Tradisi

Lantas, kenapa layang-layang menjadi sarana promosi Muna? Lasatta yang juga mantan Bupati Muna, menceritakan sejarah layang-layang tradisional di Kabupaten Muna. Layang-layang tidak hanya sekadar permainan rakyat di zaman dahulu kala, akan tetapi juga memiliki nilai historis dan ritual tersendiri bagi rakyat Muna. “Biasanya permainan layang-layang tradisional di Muna dilakukan pada saat musim panen, dan masyarakat menaikan layang-layang selama tujuh hari tujuh malam,” kisahnya.

“Pada saat diturunkan layangan itu dilakukan melalui upacara ritual dengan menggantungkan berbagai jenis makanan di tali layang-layang kemudian talinya diputuskan, sehingga layangan itu terbang bersama makanan yang digantung. Itu dilakukan sebagai tanda tolak bala atau membuang hal-hal yang buruk,” kisahnya lagi.

Sementara itu, Dirjen Promosi dan Pemasaran Kementerian Kebudayaan Seni dan Pariwisata, Syamsul Lalussa mengatakan, Festival Layang-Layang Internasional ini telah menjadi kalender pariwisata sekaligus dapat menjadi media komunikasi antarnegara maupun antardaerah di Tanah Air.

“Apalagi, fesival layanngan ini sudah terangkat ke dunia internasional karena adanya layang-layang dari Kabupaten Muna yang terbuat dari daun ’kolope’ (sejenis ubi hutan-red). Dari sinilah dunia internasional mulai tertarik dengan festival layangan,” ujar Syamsul.

Hal senada juga dikemukakan Ketua Asosiasi Layang-layang Internasional (Legong), Sari Madjid. Ia mengatakan, dirinya selama ini terus berusaha memperkenalkan layang-layang hingga ke dunia internasional, oleh karena itu, salah satu jenis layangan dari Kabupaten Muna yang terbuat dari daun ’kolope’ yang dinamakan “Kaghati” (bahasa lokal Muna) sudah pernah tampil di Prancis dan Italia. “Negara-negara Eropa sangat tertarik dengan layangan tradisional dari daun ’kolope’ ini ,” ujar Madjid.

Sumber :
Antara

.box_gw { width: 298px; height: 248px; border: 1px solid rgb(201, 201, 201); background: url(“http://stat.k.kidsklik.com/data/lipsus/gowesmudik2011/images/bg_news_gw.jpg”) repeat-x scroll 0% 0% transparent; }.box_gw_head { background: url(“http://stat.k.kidsklik.com/data/lipsus/gowesmudik2011/images/head_news_gowes.jpg”) no-repeat scroll 0% 0% transparent; width: 58px; height: 23px; padding: 45px 0pt 0pt 240px; }.box_gw_head a { font: bold 11px Arial,Helvetica,sans-serif; color: rgb(102, 102, 102); text-decoration: none; }.box_gw_head a:hover { font: bold 11px Arial,Helvetica,sans-serif; color: rgb(102, 102, 102); text-decoration: underline; }.konten_gw_news { margin-left: 10px; margin-right: 10px; border-top: 1px solid rgb(218, 218, 218); padding-top: 10px; padding-bottom: 10px; }.konten_gw_news img { width: 103px; height: 53px; margin-right: 5px; margin-bottom: 5px; }.konten_gw_news .headline { font: bold 14px Arial,Helvetica,sans-serif; color: rgb(0, 155, 194); text-decoration: none; width: 170px; }.konten_gw_news .headline a { font: bold 14px Arial,Helvetica,sans-serif; color: rgb(0, 155, 194); text-decoration: none; }.konten_gw_news .headline a:hover { text-decoration: underline; }.batas_gw { border-bottom: 1px solid rgb(218, 218, 218); margin-bottom: 10px; margin-top: 8px; }.left { float: left; }.right { float: right; }.clearit { clear: both; }

Komentar Saya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s