TUASARE/ LA BAALUWU


Raja Muna pertama adalah La Eli/ Baidhul Dhamani gelar  Bheteno Netombula putera Raja Luwu, namun ada juga yang mengatakan bahwa Bheteno Netombula kemungian  keturunan Raja-Raja Majapahit yang terdampar di Pulau Muna.
Digelar Beteno netombula sebab berdasarkan tradisi lisan masyarakat Muna dikatakan  bahwa ia ditemukan dalam rumpun bambu oleh  serombongan orang yang ditugaskan mencari bambu pada saat Mieno Wamelai (salah seorang pemimpin kampung di Muna)  akan mengadakan pesta.
Bheteno Netombula menikah dengan Tandri Abe yang ditemukan terdampar di laguna Napabale beberapa saat setelah penemuan Bheteno Netombula.Perkawinan keduanya melahirkan tiga orang anak yaitu Runtu Wulae, La Aka/ Sugi Patola dan Kilambibito.
Setelah Dewasa Runtu Wulae kembali ke Luwu negeri leluhurnya kemudian menjadi raja di sana, sedangkan La Aka/ Sugi Patola menjadi Raja Muna II dan Kilambibito menikah dengan La Singkabu Mieno Wamelai. Suatu waktu ketika Sugi Patola menjadi Raja Muna dan Runtu Wulae telah menjadi Raja Luwu, Sugi Patola mengadakan perlawatan diNegeri Luwu menemui saudaranya Runtu Wulae. Pada saat Kembali ke Muna, Sugi Patola meminta pada saudaranya agar diperkenangkan untuk membawa beberapa orang   yang memiliki keahlian seperti bertani, membuat kapal dan menyadap nira ke kerajaan Muna.
Salah seorang yang dibawah tersebut yaitu yang memiliki keahlian menyadap, diangkat menjadi juru sadap pribadi raja dan diberi gelar ‘Tuasare’ ( bahasa bugis: tukang sadap tuak). Setiap hari Tuasare harus menyediakan kameko ( sejenis tuak dari pohon enau) untuk kebutuhan raja dan tamu-tamu raja. Apabila dia tidak mampu menyediakan kameko seperti yang diminta raja maka Tuasare mendapat hukuman dicambuk. Karena seringnya dicambuk maka luka bekas cambukan tersebut membekas dipunggunnya.
Suatu pagi saat Tuasare hendak melakukan aktifitasnya menyadap enau  tiba-tiba dia menemukan seseorang telah mendahluinya diatas pohon. Melihat hal itu Tuasare sangat berang, dan begitu orang yang mencuri kamekonya turun langsung disambutnya dengan tikaman, bacokan serta pukulan. Orang yang diserangtersebutternyata tidak mau mengalah begitu saja sehingga terjadi perkelahian  yang sengit. Hampir sore perkelahian itu belum juga berhenti hingga akhirnya lawan Tuasare menyerah.
“ ampun….. saya menyeraha…. asal kamu tidak bunuh saya apapun yang tuanku minta saya akan penuhi ” Ratap lawan Tuasare tersebut yang ternyata siluman.
“ Saya mau membebaskanmu asal kamu bisa menjadikan saya seperti tuanku”  bentak  Tuasare.
“ Oke permintaan tuanku saya penuhi” jawab siluman itu. Ajaibnya dalam sekejab Tuasare berubah menjadi sepotong bambu. Potongan bambu tersebut kemudian dibawah oleh siluman itu ke Wadiabero, Pulau Muna bagian Selatan yang saat ini masuk dalam wilayah administrasi Kec. Wadiabero Kabupaten Buton dan membuangnya kelaut .
 Beberapa saat kemudian seorang nelayan dari Baruta yang sedang mengambil bubunya di pantai menemkan bubu yang dipasangnya tidak berisi  ikan  atau binatang laut lainnya tetapi  sepotong bambu. Menganggap potongan bambu itu adalah potongan bambu biasa maka dia kembali membuangnya kelaut dan melanjutkan mengambil bubunya yang lain. Tapi betapa terkejutnya dia begitu bubunya diangkat ternyata isi bubunya bukan ikan tetapi bambu yang sama yang beberapa saat yang lalu dibuangnya.
Kejadian sama terjadi sampai tiga kali sehingga nelayan tersebut memutuskan untuk tidak melanjutkan mengangkat bubunyayang lain tetapi langsung pulang kerumah dan membawa potongan bambuitu. Sesampainya dirumah nelayan itu menyimpan bambu yang didaptnya tadi di ‘sikua” sudut rumahnya.
Sejak bambu yang ditemukan saat mengangkat bubu tersebut  ada dirumah nelayan itu terjadi hal yang aneh, dimana setiap hari air yang ada dalam bhosu ( tempat air yang terbuatdari tanah liat ) setiap pagi didapatinya dalam keadaan kosong padal sorenya telah diisi penuh. Mendapat hal yang aneh tersebut, nelayan itu kemudian menyusun siasat untuk mengintip siap sebenarnya yang telah  memakai airnya. Suatu subuh dalam pengintaiannya, nelayan itu mendapati seorang laki-laki sedang mandi memakai air dalam bhosu yang telah diisi sore kemarin.
Merasa sudah cukup bukti akhirnya nelayan itu menangkap lelaki yang mencuri airnya tersebut. Namun betapa terkejutnya  sebab orang yang ditangkap itu mengaku jelmaan dari bambu yang ditemukan di laut dan dismpinnya di sikua dan bernama La Baaluwu ( Orang dari Luwu). Tidak percaya dengan pengakuan laki-laki tersebut nelayan itu bergegas melihat bambu yang telah disimpanya di sikua bebeapa hari yang lalu. Anehnya bambu tersebu tternyata benar-benar sudah tidak ada.
Setelah kembali menjadi manusia normal, Tuasare ( La Baaluwu) kemudian berpamitan pada orang yang telah menemukannya untuk pergi menuju ke Negeri Wolio yang kabarnya Rajanya Seorang perempuan ( Bulawambona ) belum bersuami. Sesampai di Kerajaan Wolio, La Baaluwu menghadap ke istanah kerajaan Wolio dan    melamar Raja Bulawambona untuk dijadikan issterinya.   Setelah lamarannya diterima maka resmilah mereka menjadi Suami Isteri.
Salah seorang anak dari La Baaluwu  dengan Bulawambona diberi nama Banc(s)a Patola yang artinya mayang patola. Penamaan itu utuk mengenang tuanya Raja Muna II Sugi Patola. 

Komentar Saya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s