Awas, Gerombolan Penjahat Seks di Kereta


Mereka mengelilingi korban dan mulai melakukan aksinya.
Selasa, 26 April 2011, 16:45 WIB

Eko Priliawito, Siti Ruqoyah

VIVAnews – Kasus pelecehan seks masih terjadi
di dalam Kereta Rel Listrik (KRL) Ekonomi. Kali ini pelakunya tidak lagi
sendiri tapi berkelompok. Selasa 26 April 2011 pagi, cerita kelam
perlakuan bejat sekelompok pria itu terjadi.

Seperti yang diceritakan rekan korban, Dina Nirmala kepada VIVAnews.com.  Rekannya
pagi tadi datang ke kantor dengan kondisi tertunduk menangis dan
badannya gemetar. Melihat hal ini, banyak temannya yang terheran.
“Sambil menangis dan dengan susah payah korban menuturkan pengalaman
pahit yang baru saja menimpanya,” katanya.

Saat itu, korban naik
KRL Ekonomi jurusan Tanah Abang, sekitar pukul 08.00 WIB, dari Stasiun
Universitas Pancasila. Kondisi kereta sangat padat. Aksi saling dorong
saat penumpang masuk pada setiap stasiun terjadi. Hal ini sudah biasa
dirasakan penumpang kereta.

Saat berada di dalam kereta, korban
tidak mencurigai apapun saat melihat sekitar 10 orang pria bergerombol.
Menurut korban, usia pelaku ditengarai antara 30 tahun ke atas. “Tampang
mereka baik-baik semua, itu kenapa saya tidak curiga apa-apa,” kata
korban yang mengenakan jilbab, seperti yang diceritakan Dina.

Desakan
penumpang dari Stasiun Lenteng Agung, memaksanya masuk lebih jauh ke
dalam gerbong. Nahas, dia dikelilingi gerombolan pria itu. Hal yang tak
dia duga mulai terjadi ketika salah satu pria yang berada di belakangnya
mulai menurunkan tangan. “Pria itu membuka celana panjangnya, dan maaf
mengeluarkan alat vitalnya dan mengesek di bagian belakang tubuh
korban,” kata Dina.

Tragisnya lagi, sejumlah pria lain itu
seperti menutupi aksi yang ada. Ketika korban berteriak minta tolong,
tidak ada satupun orang yang bisa membantu karena kondisi kereta sangat
padat. Korban bahkan memohon agar tindakan itu dihentikan. “Pak tolong,
saya mohon jangan dorong, kereta sudah padat dan saya terjepit.”
ujarnya.

Gerombolan pria itu malah tertawa. Mereka seperti
kegirangan dan mereka terus melakukan aksi bejatnya. “Pria itu bahkan
sedikit mendesah dan mengeluarkan kata-kotor kotor di kuping korban,”
katanya.

Setelah bersusah payah berteriak dan merangsek menuju
pintu, akhirnya korban keluar dari desakan gerombolan laki-laki itu di
Stasiun Pasar Minggu. Padahal kantornya berada di Tanah Abang. Dia lalu
menuju  kantornya menggunakan kendaraan umum.

Dina mengatakan, sambil bercerita korban tak hentinya mengeluarkan
air mata. Dia syok dan trauma. Kasus ini terpaksa diceritakan Dina agar
pengalaman pahit yang menimpa temanya dapat membuat kaum wanita makin
waspada saat berada di dalam kereta. Agar kondisi yang sama tidak
terjadi dan tidak terulang lagi.

“Banyak kasus seperti ini tapi
korban tidak berani mengadu. Lalu kemana jika harus mengadu? KCJ (PT
Kereta Api Commuter Jabodetabek)? Akankah ada tindakan nyata,” ujar
Dina.

Menurut Dina, biasanya pihak PT KCJ dengan mudah bicara
untuk menyalahkan korban. “Mereka mengatakan harusnya korban bisa
membela diri. Harusnya korban bisa begini dan begitu, atau yang lebih
ekstrim lagi, harusnya jangan naik kereta ekonomi kalau mau nyaman,”
katanya.

Dina mengatakan, pagi ini dirinya berkabung untuk sekian
kalinya terhadap pelayanan kereta yang buruk. “Sudah berulang kali
dikatakan buruk, tetapi seperti bangga akan keburukannya,” katanya.

“Kejadian
pagi ini hendaknya menjadi pelajaran berharga buat semua orang. Sampai
sekarang teman saya masih merasakan tertawaan orang itu dan canda
joroknya. Lelaki tidak bermoral, lahir dari batu mungkin,” kesal Dina.

Kepala Humas Daop I PT Kereta Api, Mateta Rizalulhaq mengatakan, 
akan mengusut  kejadian ini. Dia sudah menyampaikan kepada unit terkait.
Namun dia meminta agar para penumpang tidak memaksakan diri bila kereta
sudah dalam kondisi yang sangat penuh.

Selain itu, PT KA terus
berupaya untuk memberikan layanan yang layak bagi penumpang wanita
dengan menyediakan gerbong kereta wanita pada kelas eksekutif atau
ekspres. “Ini usaha kami untuk menghindari kejahatan terhadap penumpang
wanita,” ujarnya.

Selain itu, penegakan hukum dianggap menjadi
penting. Karena setiap korban diminta untuk melapor kepada petugas yang
ada disetiap stasiun maupun kepada polisi. Karena bila mengerahkan
petugas dalam jumlah banyak di dalam kereta adalah hal yang tidak
mungkin.

“Berteriak, menghindar, dan laporkan kepada petugas.
Tidak mungkin petugas diam, kalau perlu kami akan hentikan perjalanan
kereta,” ujarnya. (adi)

Iklan

Komentar Saya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s