RAJA MUNA BHETENO NE TOMBULA/BAIDHUL DHAMANI ( 1417 – 1467 ),


12.00

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}


Bheteno
ne Tombula alias La Eli alias Baidhul Jamani adalah Raja Muna I. Bheteno ne
Tombula  dipercaya sebagai orang pertama
yang memulai beradabaan baru  dalam sistem
sosial kemasyarakatan di Muna. Hal ini dikarenakan pada masa pemerintahan
Bheteno Ne Tombula, Muna menjadi sebuah kerajaan dengan struktur  pemerintahan dan struktur sosial yang lebih
moderen. Sebagai seorang raja Sugi manuru juga melakukan penataan dalam sistem
administrasi pemerintahan, walapun pada waktu itu masyarakat Muna termasuk raja
belum mengenal tuulisan. 
Bheteno
Ne tombula bukanlah orang Muna, beliau ditemukan dalam rumpun bambu oleh
sekelompok orang yang ditugaskan utnuk mencari bambu pada saat diadakan pesta
besar di Wamelai.
Dikisahkan
dalam tradisi lisan masyarakat Muna bahwa pada suatu hari, Mieno
( Pemimpin Wilayah ) Wamelai
 
akan mengadakan  pesta raya,
seluruh masyarakat  Muna di delapan
wilayah dikumpulkan untuk turut membantu mempersiapkan pelaksanaan pesta
tersebut.
Sekelompok
orang yang ditugaskan untuk mencari bamboo dihutan, menemukan seorang lelaki
yang gagah perkasa di dalam rumpun bamboo yang akan ditebang, ada juga yang
mengisahkan bahwa manusia  tersebut
ditemukan dalam ruas bamboo.
Karena
penemuan tersebut dianggap aneh, lelaki itu kemudian  dibawah menghadap pada mieno Wamelai .
Dihadapan mieno Wamelai  dan pemimpin
wilayah lainnya lelaki itu mengaku bernama 
LA ELI  alias BAILDHUL  JAMAANI  Putra Raja Luwu di Sulawesi
selatan. Dituturkan dalam tradisi lisan, kedatangan LA ELI  alias BAILDHUL  JAMAANI  di Muna untuk menunggu  istrinya yang saat ini sedang hamil dan akan
datang menemui dirinya. Tempat pertemuan yang mereka sepakati untuk pertemuan
itu adalah Pulau Muna ( Wuna).  
Selang
beberapa hari setelah penemuan manusia dalam rumpun bamboo tersebut,
tersiar  kabar bahwa di Lohia pesisir
Timur Pulau Muna, tepatnya di Curuk Napabale ditemukan seorang
wanita cantik. Wanita tersebut mengaku bernama WA TANDI ABE
.  berasal dari kerajaan Banggai di
Sulawesi Tengah, dia datang di Muna dengan menumpang sebuah talang dan
terdampar ditempat itu. Tujuan kedatangannya adalah  untuk bertemu dengan suaminya yang telah
menungguhnya disuatu tempat dimana talang yang ditumpanginya terdampar.
Kabar
tentang terdamparnya seorang wanita di Lohia tersebut  tersebar luas begitu cepat dikalaangan
masyarakaat. Pada suatu hari kabar itu 
sampai juga ditelinga MIENO WAMELAI di Tongkuno,
sehingga beliau memerintahkan agar wanita tersebut di dibawa menghadap dirinya
guna dipertemukan dengan LA ELI alias BAIDHULJAMANI  untuk di konfrontir.
Ternyata  setalah dipertemukan keduanya mengaku sebagai
suami istri dan mereka yang saling mencari 
. Dalam pertemuan tersebut Wa Tandi Abe juga mengaku dalam keadaan
hamil, dan janin dalam rahimnya tersebut adalah darah daging dari LA ELI
alias BAIDHUL JAMANI suaminya yang ada dihadapannya saat ini.
Karena
peristiwa itu dianggap luar biasa dan tidak lazim, maka rapat dewan adat
menyepakati untuk
memingit 
keduanya dalam sebuah kelambu selama tujuh hari tujuh malam. Tujuan
pemingitan adalah untuk  mencegah hal-hal
negative yang timbul akibat penemuan dua orang yang aneh tersebut dan mengaku
sebagai Suami istri. 
Setelah
tujuh hari dalam 
pingitan, ternyat
tidak ada  kejadian  yang luar biasa sehingga  keduanya di keluarkan dari pingitan kemudian
di nikahkaan kembali menurut adat yang berlaku dikalangan masyarakat Muna.
Peristiwa
pemingitan tersebut akhirnya menjadi tradisi dan menjadi syarat yang harus
dilalui seseorang yang akan menjadi Raja Muna. 
Peristiwa ini juga menjadi tradisi 
yang harus dilalui seorang wanita 
yang telah memasuki usia baliqh sebagai tanda kalau wanita tersebut
sudah siap untuk dinikahkan. Tradisi ini diberi nama
Kaghombodan
masih terpelihara dengan baik sampai saat ini.
Perkawinan
antara LA ELI alias BAIDHUL JAMANI dengan WA TANDIABE  melahirkan tiga anak yaitu KAGHUA BANGKANO
FOTU. RUNTU WULAE
dan KILAMBIBITO. KAGHUA BHANGKANO FOTU  kemudian menjadi Raja Muna II
dengan gelar SUGI PATOLA. Sugi berarti
Yang Dipertuan.   RUNTU WULAE kembali ke
Luwu untuk menjadi Raja di sana 
sedangkan  KILAMBIBITO  kawin dengan LA SINGKABU (kamokulano
Tongkuno
) Putera dari MINO WAMELAI ( La Kimi. Sejarah Muna, Jaya
Press
).       
LAKILAPONTO  Raja Muna VII dan Raja Buton VI/
Sultan Buton I
  manusia yang
fenomenal karena pernah memimpin lima kerajaan dalam waktu yang bersamaan  berasal dari garis keturunan sugi
tersebut. 
Dalam
sebuah rapat dewan adat dan semua pemimpin wilayah, disepakati bahwa La Eli
atau Badhuljamani adalah manusia sakti dan pantas untuk dinobatkan menjadi
pemimpin tertinggi di Muna. Setelah dinobatkan menjadi pemimpin tertinggi, La
Eli/ Baidhuljamani mendeklarasikan Muna sebagai sebuah Kerajaan dan dirinya
adalah Raja Pertama dengan Gelar Bheteno Ne Tombula ( yang Muncul di Bambu )
sedangkan istrinya ( permaisuri ) bergelar Sangke palangga ( yang menumpang
pada talam). Sejak saat itulah Muna menjadi sebuah kerajaan.
Tugas
pertama Bheteno ne Tombula Setelah menjadi Raja adalah  melakukan penataan struktur pemerintahan dan
struktur masyarakat Muna. Dalam struktur pemerintahan  Bheteno Ne Tombula  menetapkan :
Þ Raja sebagai kepala Negara dan kepala pemerintahan dengan gelar Lakina.
Þ Kepala Pemerintahan Wilayah   dengan gelar Mieno (pemimpin )  dan Komokula ( Yang dituakan )
Þ Rakyat   atau
kelompok yang diatur dengan gelar Ana ( yang dianggap anak ).
Pembagian
wilayah pada masa pemerintahan Bheteno Ne Tombula  masih memakai system yang lama delapan
wilayah yang  yang terdiri dari ;
1. Mieno Kaura
2. Mieno Kansitala
3. Mieno Lembo
4. Mieno Ndoke.
 Dan empat kamokula adalah sebagai berikut ;
1.
Kamokulano Tongkuno
2. Kamokulano Barangaka
3. Kamokulano Lindo
4. Kamokulano Wapepi
Untuk mengatur  Pemerintahan,
bheteno Ne Tombula  membagi
masyaraakat  Muna menjadi tiga Golongan
yaitu :
 Golongan Beteno Ne Tombula, Golongan ini  yang berhak
menjadi raja
.
 Golongan Mieno Wamelai, Golongan ini  berhak untuk
menjadi kepalah pemerintahan wilayah.
 Golongan Rakyat adalah  orang yang diatur.
 Struktur pemerintahan,
pembagian wilayah dan pembagian golongan ini berlangsung sampai masa
pemerintahan Raja Muna VI  SUGI
MANURU
.
Iklan

Komentar Saya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s